Sabtu, 29 Agustus 2015

CERPEN: PENANTIAN CINTA


Oleh Adeng Septi Irawan*)

      Di sore hari yang kelam disertai kabut tebal dengan rintik-rintik air hujan menerpa jalanan. Seperti Biasa Anisa pulang setelah mengajar mengaji di sebuah TPQ yang tak jauh dari rumahnya.Anisa selain sebagai guru mengaji terkadang ia juga membantu kedua orang tuanya menjahitkan jahitan yang dititipkan oleh pelanggan di rumahnya .Sudah sekian lama kedua orang tuanya menggeluti dunia bisnis jahit-menjahit bahkan terbilang usia bisnis ini lebih tua ketimbang usia AnisaPerlahan-lahan Ia mulai menunjukkan kecakapannya dalam menjahit, ini merupakan rutinitasnya sebelum menunggu adzan maghruib berkumandang.Bagi Anisa menjahit bukanlah sebuah pekerjaan yang melelahkan tetapi sebuah kenikmatan.tersendiri
      Keheningan sore itu memang telah mengingatkan Anisa terhadap seorang laki-laki yang dahulu pernah menjadi pelanggan jahit kedua orang tuanya.Sebut saja Imron,seorang pemuda tampan dari kalangan keluarga terhormat di Desa tetangga.Peristiwa itu berlangsung lima tahun yang lalu,tatkala Imron disuruh kedua orang tuanya untuk menjahitkan pakaian di rumah Orang tua Anisa.Pada waktu itu Anisa yang masih berprofesi sebagai Mahasiswa semester V di sebuah kampus agama islam ternama di daerahnya.Di sore yang dingin itu Anisa baru saja pulang dari kampus karena mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.Ketika sampai depan rumah ia melihat seorang pemuda asing sedang menunggu di depan rumahnya.Ia pun segera bergegas untuk menemuinya,Ternyata dia adalah anak dari salah satu pelanggan kedua orang tuanya.Setelah menyerhkan jahitan kepadanya pemuda itu bergegas pergi.Ia pun tak sempat menanyakan nama dan tempat tinggal pemuda asing itu.
      Rasa penasaran yang begitu besar membuat ia senantisa menanti kedatangan pemuda asing itu.Dari sekian pelanggan jahit kedua orang tuanya yang pernah datang ke rumahnya tak seorang pun yang membuatnya sepenasaran ini.Ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya sejak perjumpaannya dengan pemuda itu.Berhari-hari ia menanti kedatangannya, tapi tak kunjung datang,hingga pada suatu ketika ia berpesan kepada ibunya untuk menanyakan nama dan tempat tinggalnya jika ia bertemu dengan pemuda asing itu.Setelah beberapa minggu terjadilah pertemuan kedua kalinya Anisa dengan pemuda asing itu.saat pemuda itu mengambil jahitan ibunya yang dijahit tiga minggu yang lalu. Tanpa diduga terjadilah obrolan singkat antara keduanya, Ia pun mulai mengenalnya,dia bernama Imron dan tinggal di desa sebelah.Pertemuan kedua itulah yang menjadi tonggak awal hubungan komunikasi yang akrab.Tanpa disadari oleh Anisa ia mulai jatuh cinta dengan Imron.Memang usia Imron adalah seumuran Anisa.Hanya saja Imron adalah seorang mahasiswa Semester V jurusan komunikasi di sebuah Universitas Umum terpandang di daerahnya.
      Tak disangka-sangka Imron juga menaruh hati pada Anisa.Akhirnya tepat tiga bulan sejak pertemuannya mereka berdua mulai berpacaran.Orang tua dari Anisa pun terlihat tak melarang anaknya berpacaran dengan anak pelanggan jahitnya itu.. Sejak itu Imron seringkali datang ke rumah Anisa untuk sekedar silaturahmi. Kadangkala orang tua Imron juga berkunjung ke rumah Kedua orang tua Anisa untuk menjahitkan pakaian.Dari keakraban itulah terlihat sebuah bentuk atau tanda persetujuan hubungan antara Anisa dan Imron.
      Hari berganti hari, bulan berganti bulan, hingga suatu ketika Imron terpilih menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia yang direkrut oleh perusahaan Daily mail, sebuah perusahaan media massa internasional yang sangat terkenal.Menjelang keberangkatannya untuk pergi ke USA meniti karir menjadi seorang redaktur.Ia sempat meluangkan waktunya bertemu dengan Anisa dan mengatakan jaga dirimu baik-baik,Sa?, panggilan akrab Imron pada Anisa Tunggulah kesuksesan yang aku dapat di luar sana,Jika aku telah berhasil aku akan kembali ke Indonesia dan segera meminangmu.Dengan perasaan berat hati ia melepaskan telapak tangan Imron dari genggaman tangannya. Ia hanya bisa berdoa agar kekasihnya senantiasa mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.Rasa haru dan sedih tercampur jadi satu menjadi sebuah kenangan yang abadi.
      Keesokan harinya berangkatlah Imron menuju USA,Sejak kepergian Imron, hampir setiap hari Anisa menelepon Imron.Tetapi semenjak kesibukan Imron yang luar biasa di Daily Mail telah membuat Imron jarang berkomunikasi dengan Anisa.Hingga suatu ketika Imron pernah mencaci Anisa dengan ungkapan”Aku tak sudi Meleponmu lagi,kau tak pernah menghargaiku dalam bekerja,kau tak kenal waktu ketika berkomunikasi, dan kau hanyalah seorang pacar tidak lebih.” No. handphone Imron pun telah diganti dengan yang baru. Ungkapan Imron ini yang telah membuat sakit hati Anisa.Anisa menganggap bahwa kekasihnya lebih mementingkan karir daripada dirinya.Ia menganggap bahwa kekasihnya yang selama ini ia cintai dan harap menjadi suaminya kelak hanyalah sebuah angan-ngn kosong.
      Bertahun-tahun ia menunggu kedatangan Imron ke rumahnya agar segera melamarnya.Tetapi itu hanyalah sebuah bayang-bayang ilusi belaka tanpa ada kenyataannya. Ia tetap sabar dalam menunggu dan terus menunggu kedatngan kekasihnya..Dalam benak Anisa terpikir Imron mungkin masih berusaha untuk meraih kesuksesan yang pernah dijanjikan sebelum dia berangkat ke USA tepat 5 hari setelah wisuda di universitasnya.kemudian Selang 2 minggu dari wisuda Imron,barulah giliran Anisa menyandang gelar sarjana pendidikan islam. Ia pun langsung bekerja menjadi seorang guru mengaji.
      Melihat kemurungan yang dialami oleh Anisa, kedua orangtuanya merasa sedih dan cemas.Mereka pun berniat untuk segera mencarikan jodoh untuk Anisa,Dikarenakan usia Anisa yang telah tua dan supaya Anisa tidak murung..Orang tuanya pun telah mencoba dan berusaha untuk mengenalkan anak dari kenalan ayahnya yang masih belum menikah.Sebanyak dua kali telah ia tolak dengan alasan kurang mencintainya. Kedua orang tuanya hamper putus asa karena dua orang laki-laki telah ditolaknya.Tetapi orang tua Anisa tak pantang menyerah untuk mencarikan jodoh untuk anak semata wayangnya.
      Pada suatu hari Anisa dikenalkan lagi oleh seorang pemuda tampan anak seorang kiai Ternama pemimpin sebuah pondok pesantren terkenal di daerah Kampung tetangga.Setelah memikirkan dengan matang Anisa mulai mau menuruti kedua orang tuanya. Ia merasa usia yang semakin tua dan tidak menikah adalah sebuah beban bagi kedua orang tuanya. Ia pun mulai beerusaha untuk melupakan Imron mantan kekasihnya yang sangat dia cintai.Ia berusaha untuk mewujudkan keingina dari kedua orang tuanya.Akhirnya ia pun mulai dikenalkan dengan seorang pemuda anak kiai yang bernama Zidqi.Zidqi jika dibandingkan dengan dua pemuda yang sebelumnya akan dijodohkan dengan Anisa memang jauh lebih baik. Selain tampan ia juga seorang pemuda yang sholeh dan seorang pengusaha sukses. Tetapi jika dibandingkan Imron tentunya Imron jauh lebih baik menurut pandangannya.
      Dari sebuah pepatah Jawa “witing trisna jalaran saka kulina “.Inilah yang menjadi motivasinya untuk segera menikah dengan Zidqi.Persiapan pernikahan pun segera dipersiapkan, undangan telah disebar, ke seluruh rekan-rekan dari kedua mempelai.Menurutnya ini adalah sebuah pernikahan termewah yang pernah ada di desanya.
      Seminggu menjelang pernikahannya, seperti hari-hari biasa ia sering update status di facebook. Tanpa sengaja ia di komentari oleh seorang laki-laki yang tak lain adalah Imron kekasihnya di USA.Mereka berdua pun bercakap-cakap lewat jejaring sosial tersebut. Tanpa sadar ternyata Imron sebenarnya Imron masih sangat mencintai Anisa.Buktinya hingga saat ini dia belum mencari calon istri.Anisa pun bercerita bahwa minggu depan ia akan dijodohkan dengan seorang anak kiai kepada Imron.Imron pun merasa terpukul sebenarnya jikalau Anisa harus menjadi milik orang lain. Ia meminta maaf kapada Anisa karena dia dulu lebih mementingkan karir ketimbang kekasih,Saat ini ia menyesal.Mendengar ungkapan hati dari Imron Anisa merasa kasihan dan berat memikul beban jika ia pada akhirnya akan menikah dengan Zidqi orang yang tak dicintainya.Anisa berusaha mencari akal untuk dapat menggagalkan pesta pernikahan ini. Dalam benaknya terpikir tetapi dengan cara apa.
      Tiga hari menjelang pesta pernikahan ia belum menemukan ide untuk menggagalkannya. Barulah ketika ia terbangun dari tidur ia mendapat sebuah jawaban,Bahwasanya ia harus menyusul Imron tanpa sepengetahuan dari kedua orangtuanya.Maka Berangkatlah ia ke USA untuk menyusul Imron dua hari sebelum hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga kedua mempelai.Dengan berbekal gaji yang ia terima selama menjadi guru mengaji.Ia bergegas berangkat menuju USA, meskipun ia tidak tahu secara pasti tempat tinggal Imron.Sesampai disana ia mengalami kebingungan karena ia tidak seberapa memahami daerah yang baru ia kenalnya,selain itu ia juga kurang mumpuni dalam berbahasa Inggris.Ia pun tersesat di daerah ini.
      Sementara itu keluarganya yang ada di Indonesia kebingungan mencari Anisa, karena Anisa hilang jejaknya dua hari menjelang pernikahannya. Padahal Undangan telah  disebar dan persiapan pernikahan telah siap. Tetapi si mempelai wanita hilang.Zidqi pun dengan dibantu beberapa kawannya dari pondok pesantren berusaha mencari Anisa,mulai dari ke kantor polisi hingga meminta bantuan kepada teman-temannya yang mengerti dan paham mengenai dunia ghaib.
      Di USA Imron kehilangan jejak dari Anisa karena sekarang ia jarang chat facebook dengannya.Apalgi mendengar berita dari kedua orang tua Imron yang ada di Indonesia yang mengatakan bahwa Anisa hilang dua hari menjelang pernikahannya.Imron pun berusaha untuk mencari Anisa di USA, dikhawatirkan Anisa menyusulnya tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.Akhirnya Imron pun berusaha menggunakan media Daily Mail yang menjadi pekerjaannya untuk mencari Anisa.Berkali-kali foto Anisa terpampang di harian Daily Mail, tetapi hasilnya tetap nihil.
      Dua bulan sejak diterbitkannya foto Anisa di Daily Mail.Barulah seorang penduduk asli USA menemukan Anisa dalam keadaan pingsan karena kelelahan dan kehabisan bekal di sebuah jalan kecil di pinggir kota. Ia pun langsung membawanya ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.Tanpa sadar orang tersebut membaca harian Daily Mail ketika berada di ruang tunggu rumah sakit.Ia pun segera menghubungu Imron di kantornya melalui handphone.Dengan bergegas Imron meluncur menjuju Rmah Sakit dimana Anisa dirawat.Sesampai disana imron segera menuju UGD, Ia melihat Anisa tergolek lemah tak berdaya,perlahan-lahan air mata Imron menetes perlahan-lahan membasahi pipinya.Ia dekap Anisa erat-erat,Imron merasakan penyesalan yang begitu dalam karena lebih mementingkan karir daripada kekasih.

      Menurut tim dokter rumah sakit Anisa diperkirakan akan mengalami masa koma selama kurang lebih seminggu. Ini dikarenakan ia kehabisan cadangan karbohidrat dalam tubuhnya, mungkin ini disebabkan karena kelaparan selama dua bulan.Imron dengan sabar menunggu dan tak henti-hentinya berdoa kepada Allah SWT.Akhirnya tepat seminggu setelah Anisa dirawat,Ia pun mulai sadar meskipun tidak seratus persen.Imron pun menuju ruang dimana Anisa dirawat.Dengan perasaan bahagia Imron segera memeluk Anisa.Kedua insan pasangan manusia ini pun akhirnya dipertemukan lagi di USA.Setelah melepas rindu Imron segera mengirimkan pesan kepada kedua orangtuanya di Indonesia mengenai keadaan Anisa agar disampaikan kepada kedua orang tua Anisa.

*)Adeng Septi Irawan, Penulis adalah Mahasiswa Penggiat Seni dan Sastrawan di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar