Oleh Adeng
Septi Irawan*)
Di sore hari yang kelam disertai kabut
tebal dengan rintik-rintik air hujan menerpa jalanan. Seperti Biasa Anisa pulang
setelah mengajar mengaji di sebuah TPQ yang tak jauh dari rumahnya.Anisa selain
sebagai guru mengaji terkadang ia juga membantu kedua orang tuanya menjahitkan
jahitan yang dititipkan oleh pelanggan di rumahnya .Sudah sekian lama kedua
orang tuanya menggeluti dunia bisnis jahit-menjahit bahkan terbilang usia
bisnis ini lebih tua ketimbang usia AnisaPerlahan-lahan Ia mulai menunjukkan
kecakapannya dalam menjahit, ini merupakan rutinitasnya sebelum menunggu adzan
maghruib berkumandang.Bagi Anisa menjahit bukanlah sebuah pekerjaan yang
melelahkan tetapi sebuah kenikmatan.tersendiri
Keheningan sore itu memang telah
mengingatkan Anisa terhadap seorang laki-laki yang dahulu pernah menjadi
pelanggan jahit kedua orang tuanya.Sebut saja Imron,seorang pemuda tampan dari
kalangan keluarga terhormat di Desa tetangga.Peristiwa itu berlangsung lima
tahun yang lalu,tatkala Imron disuruh kedua orang tuanya untuk menjahitkan
pakaian di rumah Orang tua Anisa.Pada waktu itu Anisa yang masih berprofesi
sebagai Mahasiswa semester V di sebuah kampus agama islam ternama di
daerahnya.Di sore yang dingin itu Anisa baru saja pulang dari kampus karena
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.Ketika sampai depan
rumah ia melihat seorang pemuda asing sedang menunggu di depan rumahnya.Ia pun
segera bergegas untuk menemuinya,Ternyata dia adalah anak dari salah satu
pelanggan kedua orang tuanya.Setelah menyerhkan jahitan kepadanya pemuda itu
bergegas pergi.Ia pun tak sempat menanyakan nama dan tempat tinggal pemuda
asing itu.
Rasa penasaran yang begitu besar membuat
ia senantisa menanti kedatangan pemuda asing itu.Dari sekian pelanggan jahit
kedua orang tuanya yang pernah datang ke rumahnya tak seorang pun yang
membuatnya sepenasaran ini.Ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya
sejak perjumpaannya dengan pemuda itu.Berhari-hari ia menanti kedatangannya,
tapi tak kunjung datang,hingga pada suatu ketika ia berpesan kepada ibunya
untuk menanyakan nama dan tempat tinggalnya jika ia bertemu dengan pemuda asing
itu.Setelah beberapa minggu terjadilah pertemuan kedua kalinya Anisa dengan
pemuda asing itu.saat pemuda itu mengambil jahitan ibunya yang dijahit tiga
minggu yang lalu. Tanpa diduga terjadilah obrolan singkat antara keduanya, Ia
pun mulai mengenalnya,dia bernama Imron dan tinggal di desa sebelah.Pertemuan
kedua itulah yang menjadi tonggak awal hubungan komunikasi yang akrab.Tanpa
disadari oleh Anisa ia mulai jatuh cinta dengan Imron.Memang usia Imron adalah
seumuran Anisa.Hanya saja Imron adalah seorang mahasiswa Semester V jurusan
komunikasi di sebuah Universitas Umum terpandang di daerahnya.
Tak disangka-sangka Imron juga menaruh
hati pada Anisa.Akhirnya tepat tiga bulan sejak pertemuannya mereka berdua
mulai berpacaran.Orang tua dari Anisa pun terlihat tak melarang anaknya
berpacaran dengan anak pelanggan jahitnya itu.. Sejak itu Imron seringkali
datang ke rumah Anisa untuk sekedar silaturahmi. Kadangkala orang tua Imron
juga berkunjung ke rumah Kedua orang tua Anisa untuk menjahitkan pakaian.Dari
keakraban itulah terlihat sebuah bentuk atau tanda persetujuan hubungan antara
Anisa dan Imron.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan,
hingga suatu ketika Imron terpilih menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia
yang direkrut oleh perusahaan Daily mail, sebuah perusahaan media massa
internasional yang sangat terkenal.Menjelang keberangkatannya untuk pergi ke
USA meniti karir menjadi seorang redaktur.Ia sempat meluangkan waktunya bertemu
dengan Anisa dan mengatakan jaga dirimu baik-baik,Sa?, panggilan akrab Imron
pada Anisa Tunggulah kesuksesan yang aku dapat di luar sana,Jika aku telah
berhasil aku akan kembali ke Indonesia dan segera meminangmu.Dengan perasaan
berat hati ia melepaskan telapak tangan Imron dari genggaman tangannya. Ia
hanya bisa berdoa agar kekasihnya senantiasa mendapatkan perlindungan dari
Tuhan Yang Maha Esa.Rasa haru dan sedih tercampur jadi satu menjadi sebuah
kenangan yang abadi.
Keesokan harinya berangkatlah Imron menuju
USA,Sejak kepergian Imron, hampir setiap hari Anisa menelepon Imron.Tetapi
semenjak kesibukan Imron yang luar biasa di Daily Mail telah membuat Imron
jarang berkomunikasi dengan Anisa.Hingga suatu ketika Imron pernah mencaci
Anisa dengan ungkapan”Aku tak sudi Meleponmu lagi,kau tak pernah menghargaiku
dalam bekerja,kau tak kenal waktu ketika berkomunikasi, dan kau hanyalah
seorang pacar tidak lebih.” No. handphone Imron pun telah diganti dengan yang
baru. Ungkapan Imron ini yang telah membuat sakit hati Anisa.Anisa menganggap
bahwa kekasihnya lebih mementingkan karir daripada dirinya.Ia menganggap bahwa
kekasihnya yang selama ini ia cintai dan harap menjadi suaminya kelak hanyalah
sebuah angan-ngn kosong.
Bertahun-tahun ia menunggu kedatangan
Imron ke rumahnya agar segera melamarnya.Tetapi itu hanyalah sebuah bayang-bayang
ilusi belaka tanpa ada kenyataannya. Ia tetap sabar dalam menunggu dan terus
menunggu kedatngan kekasihnya..Dalam benak Anisa terpikir Imron mungkin masih
berusaha untuk meraih kesuksesan yang pernah dijanjikan sebelum dia berangkat
ke USA tepat 5 hari setelah wisuda di universitasnya.kemudian Selang 2 minggu
dari wisuda Imron,barulah giliran Anisa menyandang gelar sarjana pendidikan
islam. Ia pun langsung bekerja menjadi seorang guru mengaji.
Melihat kemurungan yang dialami oleh
Anisa, kedua orangtuanya merasa sedih dan cemas.Mereka pun berniat untuk segera
mencarikan jodoh untuk Anisa,Dikarenakan usia Anisa yang telah tua dan supaya
Anisa tidak murung..Orang tuanya pun telah mencoba dan berusaha untuk
mengenalkan anak dari kenalan ayahnya yang masih belum menikah.Sebanyak dua
kali telah ia tolak dengan alasan kurang mencintainya. Kedua orang tuanya
hamper putus asa karena dua orang laki-laki telah ditolaknya.Tetapi orang tua
Anisa tak pantang menyerah untuk mencarikan jodoh untuk anak semata wayangnya.
Pada suatu hari Anisa dikenalkan lagi oleh
seorang pemuda tampan anak seorang kiai Ternama pemimpin sebuah pondok
pesantren terkenal di daerah Kampung tetangga.Setelah memikirkan dengan matang
Anisa mulai mau menuruti kedua orang tuanya. Ia merasa usia yang semakin tua
dan tidak menikah adalah sebuah beban bagi kedua orang tuanya. Ia pun mulai
beerusaha untuk melupakan Imron mantan kekasihnya yang sangat dia cintai.Ia
berusaha untuk mewujudkan keingina dari kedua orang tuanya.Akhirnya ia pun
mulai dikenalkan dengan seorang pemuda anak kiai yang bernama Zidqi.Zidqi jika
dibandingkan dengan dua pemuda yang sebelumnya akan dijodohkan dengan Anisa
memang jauh lebih baik. Selain tampan ia juga seorang pemuda yang sholeh dan
seorang pengusaha sukses. Tetapi jika dibandingkan Imron tentunya Imron jauh lebih
baik menurut pandangannya.
Dari sebuah pepatah Jawa “witing trisna
jalaran saka kulina “.Inilah yang menjadi motivasinya untuk segera menikah
dengan Zidqi.Persiapan pernikahan pun segera dipersiapkan, undangan telah
disebar, ke seluruh rekan-rekan dari kedua mempelai.Menurutnya ini adalah
sebuah pernikahan termewah yang pernah ada di desanya.
Seminggu menjelang pernikahannya, seperti
hari-hari biasa ia sering update status di facebook. Tanpa sengaja ia di
komentari oleh seorang laki-laki yang tak lain adalah Imron kekasihnya di
USA.Mereka berdua pun bercakap-cakap lewat jejaring sosial tersebut. Tanpa
sadar ternyata Imron sebenarnya Imron masih sangat mencintai Anisa.Buktinya
hingga saat ini dia belum mencari calon istri.Anisa pun bercerita bahwa minggu
depan ia akan dijodohkan dengan seorang anak kiai kepada Imron.Imron pun merasa
terpukul sebenarnya jikalau Anisa harus menjadi milik orang lain. Ia meminta
maaf kapada Anisa karena dia dulu lebih mementingkan karir ketimbang
kekasih,Saat ini ia menyesal.Mendengar ungkapan hati dari Imron Anisa merasa
kasihan dan berat memikul beban jika ia pada akhirnya akan menikah dengan Zidqi
orang yang tak dicintainya.Anisa berusaha mencari akal untuk dapat menggagalkan
pesta pernikahan ini. Dalam benaknya terpikir tetapi dengan cara apa.
Tiga hari menjelang pesta pernikahan ia
belum menemukan ide untuk menggagalkannya. Barulah ketika ia terbangun dari
tidur ia mendapat sebuah jawaban,Bahwasanya ia harus menyusul Imron tanpa
sepengetahuan dari kedua orangtuanya.Maka Berangkatlah ia ke USA untuk menyusul
Imron dua hari sebelum hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga kedua
mempelai.Dengan berbekal gaji yang ia terima selama menjadi guru mengaji.Ia
bergegas berangkat menuju USA, meskipun ia tidak tahu secara pasti tempat
tinggal Imron.Sesampai disana ia mengalami kebingungan karena ia tidak seberapa
memahami daerah yang baru ia kenalnya,selain itu ia juga kurang mumpuni dalam
berbahasa Inggris.Ia pun tersesat di daerah ini.
Sementara itu keluarganya yang ada di Indonesia
kebingungan mencari Anisa, karena Anisa hilang jejaknya dua hari menjelang
pernikahannya. Padahal Undangan telah
disebar dan persiapan pernikahan telah siap. Tetapi si mempelai wanita
hilang.Zidqi pun dengan dibantu beberapa kawannya dari pondok pesantren
berusaha mencari Anisa,mulai dari ke kantor polisi hingga meminta bantuan
kepada teman-temannya yang mengerti dan paham mengenai dunia ghaib.
Di USA Imron kehilangan jejak dari Anisa
karena sekarang ia jarang chat facebook dengannya.Apalgi mendengar berita dari
kedua orang tua Imron yang ada di Indonesia yang mengatakan bahwa Anisa hilang
dua hari menjelang pernikahannya.Imron pun berusaha untuk mencari Anisa di USA,
dikhawatirkan Anisa menyusulnya tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya.Akhirnya
Imron pun berusaha menggunakan media Daily Mail yang menjadi pekerjaannya untuk
mencari Anisa.Berkali-kali foto Anisa terpampang di harian Daily Mail, tetapi
hasilnya tetap nihil.
Dua bulan sejak diterbitkannya foto Anisa
di Daily Mail.Barulah seorang penduduk asli USA menemukan Anisa dalam keadaan
pingsan karena kelelahan dan kehabisan bekal di sebuah jalan kecil di pinggir
kota. Ia pun langsung membawanya ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan
perawatan.Tanpa sadar orang tersebut membaca harian Daily Mail ketika berada di
ruang tunggu rumah sakit.Ia pun segera menghubungu Imron di kantornya melalui
handphone.Dengan bergegas Imron meluncur menjuju Rmah Sakit dimana Anisa
dirawat.Sesampai disana imron segera menuju UGD, Ia melihat Anisa tergolek
lemah tak berdaya,perlahan-lahan air mata Imron menetes perlahan-lahan
membasahi pipinya.Ia dekap Anisa erat-erat,Imron merasakan penyesalan yang
begitu dalam karena lebih mementingkan karir daripada kekasih.
Menurut tim dokter rumah sakit Anisa diperkirakan
akan mengalami masa koma selama kurang lebih seminggu. Ini dikarenakan ia
kehabisan cadangan karbohidrat dalam tubuhnya, mungkin ini disebabkan karena
kelaparan selama dua bulan.Imron dengan sabar menunggu dan tak henti-hentinya
berdoa kepada Allah SWT.Akhirnya tepat seminggu setelah Anisa dirawat,Ia pun
mulai sadar meskipun tidak seratus persen.Imron pun menuju ruang dimana Anisa
dirawat.Dengan perasaan bahagia Imron segera memeluk Anisa.Kedua insan pasangan
manusia ini pun akhirnya dipertemukan lagi di USA.Setelah melepas rindu Imron
segera mengirimkan pesan kepada kedua orangtuanya di Indonesia mengenai keadaan
Anisa agar disampaikan kepada kedua orang tua Anisa.
*)Adeng Septi Irawan, Penulis adalah Mahasiswa
Penggiat Seni dan Sastrawan di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar