Oleh
Adeng Septi Irawan*)
Malam
yang dingin,ditambah gemericik air
dibalik jendela kamarku.Diluar sana tampak tetes air menetes perlahan-lahan
membasahi tanaman anggrek kesayanganku pemberian kekasihku yang terakhir
sebelum dia pergi meninggalkanku untuk selamanya .Tanpa sadar ku melayang jauh
di bawah alam sadar merasakan udara malam yang mengusik ketenanganku di tempat
peraduan.Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu di masa lalu.tatkala aku mengenyam
bangku sma dulu.Aku teringat akan gadis pujaanku yang pernah menjadi bagian
dari hidupku.ia bernama Purna Ratri atau yang lebih akrab disapa Ratri.Dialah
gadis yang paling istimewa diantara gadis-gadis yang pernah mengisi lubuk
hatiku.Ia adalah seorang gadis desa yang baik paras dan budinya,baik pula dalam
ibadahnya,intinya dia adalah gadis yang sempurna yang diturunkan tuhan untuk
mendampingiku. Dialah orang pertama yang menjadi penyemangat dalam mengarungi
problematika kehidupan yang silih berganti menerpaku.Tetapi sayang kini ku
takkan pernah berjumpa lagi dengannya,aku tak tahu sedang apa dirinya malam ini
disana,tidurkah dia?sedang apakah dia?mungkinkah dia sekarang sedang
melamunkanku seperti ku melamunkan dia?. Atau mungkin dia sedang berbahagia
disana.
Aku
hanya bisa tertunduk lesu mengenang saat-saat ketika dia meninggalkanku setahun silam.Dia
memang melanjutkan sekolah ke luar negeri saat itu.Dia kuliah di Al Azhar University
Kairo dengan konsentrasi jurusan hukum islam dengan jalur program beasiswa dari
Departemen Agama Republik Indonesia. Kekasihku memang terkenal akan
kepandaiannya di sekolah ku dulu.Sehingga tak jarang banyak temanku laki-laki menginginkan dia menjadi
pacarnya.tetapi ia tak pernah menghiraukannya sama sekali. Akupun sebenarnya
juga menaruh hati kepadanya tetapi ku masih belum cukup berani mengungkapkan
isi hatiku.Hingga saatnya akupun mencoba untuk menguungkapkan isi hatiku
kepadanya.Ia pun langsung merespon ku dengan positif.Aku menjadi bertanya-tanya
dalam hatiku mengapa dia memilihku padahal banyak laki-laki yang lebih tampan dan kaya.yang lebih dulu mengungkapkan
isi hatinya sebelum aku.Pernah suatu hari ku memberanikan diri mencoba bertanya
padanya.Tetapi dia menjawab dengan singkat bahwa sesungguhnya dalam dirimu, wan tersimpan sesuatu yang lain
daripada lainnya.Ia mengatakan bahwa ia merasakan suatu kenyamaanan yang luar biasa
ketika bersamaku.
Menjelang hari keberangkatannya ke Mesir Ia sempat datang ke
rumahku untuk berpamitan dengan keluargaku. Akupun sempat mengantarnya ke airport bersama
teman-temanku sekelas. Semua ini kulakukan karena rasa cinta kupadanya. Akupun selalu berdoa kepada Tuhan semoga dia dapat meraih impian-impiannya dan senantiasa dalam lindungan-Nya dimanapun dia berada.
Beberapa hari setelah kepergiannya dari Indonesia hampir setiap saat dia menelponku.. Tetapi setelah menginjak bulan yang ketiga Ia mulai jarang berkomunikasi denganku Akupun menjadi khawatir mengenai keadaannya. Terakhir kali dia menelponku dan mengungkapkan bahwa untuk sementara dia memintaku untuk tidak menghubunginya, Dengan sabarku menanti telepon darinya.Tetapi hingga
bulan ke sembilan ia tak pernah menelponku lagi. Sejak saat itu aku
menjadi curiga mengapa ia tak pernah menelpon ku.Aku mencoba untuk menghubungi
keluarganya.Berkali-kali aku menelponnya tetapi hasilnya nihil.Akhirnya
kuputuskan untuk bertamu ke rumah keluarganya,tetapi keberuntungan senantiasa
menjauh dariku.Menurut tetangganya
bahwa keluarga Ratri sudah lama meninggalkan Indonesia. Entahlah mereka pergi kemana. Hatiku pun menjadi
gelisah,jantungku berdetak tak karuan,hampir saja urat-urat nadiku terputus,Sejak peristiwa itu,tiap hari
aku merenung memikirkan kekasihku yang kucintai hidup dan mati yang kelak ak n kujadikan istri pada saatnya nanti. Akan kujadikan dia menjadi
seorang ibu bagi anak-anakku kelak.
Aku
hanya bisa termenung duduk dalam kesendirian berpikir dan terus berpikir untuk
menemukan jalan keluarnya.Semua
pekerjaan kuliah ku biarkan berserakan menumpuk diatas ranjang
tanpa aku pegang sama sekali.
Aku
membolos selama beberapa hari tidak masuk kuliah. Beberapa kali aku mendapat surat panggilan dari kampus untuk menghadap dosen karena kusering tidak hadir kuliah. Di rumah yang kulakukan hanya
merenung dan terus merenung. Melihat tingkah lakuku yang tak biasa. Ibuku mencoba
mendekatiku dan menanyakan apa gerangan yang terjadi pada diriku. Akupun memberanikan
diri untuk mengungkapkan masalah ku pada ibuku. Ibuku hanya bisa diam
tak tahu apa yang harus diperbuat untuk anaknya. Ibuku hanya bisa
membantuku semampunya,mengingat usia ibuku hampir satu abad.
Tentunya ia telah banyak merasakan pahit getirnya keh idupan
di dunia yang fana ini.
Setelah
beberapa bulan aku mencari berita mengenai keberadaan keluarga kekasihku, Aku
memutuskan untuk menghentikan pencarian sementara waktu.Saat menonton televisi
tanpa sengaja ku mendengar kabar dari Mesir bahwa pemerintahan Mesir sedang mengalami masa revolusi besar-besaran.Sehingga tak jarang
diberitakan di berbagai media informasi lainnya mengenai jatuhnya korban akibat dari tindakan
para militan yang anti penguasa .Mendengar berita ini,Akupun kaget dan tersentak mungkinkah Ratri mengalami nasib
yang sama seperti yang diberitakan di televisi.Setelah beberapa hari muncullah
berita di televisi mengenai jumlah wni yang tewas akibat revolusi di
Mesir.Setelah melihat berita itu aku langsung bergegas ke Jakarta untuk melihat
identitas jasad korban.Tetapi Ku sangat kecewa karena aparat keamanan melarang
setiap orang yang yang tidak berkepentingan masuk ke ruang otopsi Rumah Sakit POLRI Kramat Jati. Akhirnya ku memutuskan
untuk menginap di rumah temanku selama beberapa hari menunggu hasil otopsi.
Tibalah
saatnya hari yang kutunggu-tunggu pengumuman hasil otopsi.Kupandangi satu-persatu
nama-nama korban dengan teliti.Tiba-tiba air mataku menetes melihat salah satu
nama yaitu Purna Ratri. Bersamaan
itu pula dari belakangku muncullah seseorang yang tak asing bagiku.Kupandangi
orang itu dengan saksama.Aku baru ingat ibu Ratri,dengan sigap ku berlari
menghampiri Ibu Ratri diantara kerumunan warga.Setelah kurasa dekat dengan beliau aku langsung
memanggilnya, Beliaupun langsung menoleh menuju sumber suara,dengan penuh rasa
terbata-bata aku menghampirinya.Aku langsung bertanya pada beliau,sedang apa
gerangan disini.Dengan perasaan yang berat beliaupun bercerita,begini nak
Iwan(sapaan akrabku) bahwa saya kesini mau membawa pulang jasad Ratri.Darahku
langsung berhenti mengalir tatkala mendengar ucapan beliau.Aku merasakan
tekanan batin yang amat berat bagaikan mendapat pukulan sesuatu yang keras.Ternyata
kekasih yang selama ini aku cintai begitu cepat pergi meninggalkanku, pupus sudah harapanku
merajut mimpi bersamanya ,hilang semua harapan-harapan ku.Aku berharap,ketika
saatnya nanti dia akan pulang dengan membawa gelar kesarjanaanya.Tapi
sayang,saat ini ia hanya membawa pulang jasad yang terbaring lemah tak bernyawa
di ruang otopsi.
Dengan
penuh perasaan bersalah Ibu
Ratri memelukku dan berkata maafkan aku nak Iwan.Karena ibu telah memisahkan
kalian berdua sehingga berakibat seperti ini.Akupun menjadi bingung apa
maksudnya.Lalu ku papah pelan-pelan ibu kekasihku untuk duduk dengan tenang.Saat
suasana sudah nyaman barulah beliau memulai cerita.Nak Iwan,sebenarnya ibu
sangat tidak merestui hubungan kalian berdua,sebelum kejadian ini Ratri pernah
meminta kepada ibu untuk pulang ke Indonesia,tetapi ibu melarangnya.Ibu
khawatir kalau Ratri akan bertemu
denganmu.Untuk itu Ibu mengganti no.handphone Ratri dengan yang
baru dan kami sekeluarga pindah rumah ke Malaysia agar hubungan kamu dengan
Ratri jauh.Tetapi ibu sadar dengan menjauhkan kalian berdua tidak menyelesaikan
masalah tetapi malah menambah masalah.Karena merasa jauh dari nak Iwan setiap
hari Ratri merasa sedih dan menyendiri. Walaupun sudah dingatkan oleh pemerintah
Mesir bahwa warga
Indonesia dilarang untuk keluar dari tempat yang aman sebelum ada
pemberitahuan. Tetapi, Ratri tetap nekat untuk
menuju airport untuk pulang ke Indonesia dalam perjalanan menuju airport inilah mobil
yang ditumpanginya di bom oleh militan anti penguasa hingga akhirnya Ratri pun tewas di tempat kejadian.Begitulah
kisahnya nak Iwan maafkan ibu nak Iwan. Maafkan Ibu Ratri
karena telah menjauhkanmu dari laki-laki yang kamu cintai hingga akhirnya
kau meninggal se--tragis
ini..
*)Adeng
Septi Irawan, Mahasiswa dan Aktivis
Pecinta Sastra di UIN Sunan Ampel Surabaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar