Minggu, 30 Agustus 2015

CERPEN: KASIH TAK SAMPAI


Oleh Adeng Septi Irawan*)

Malam yang dingin,ditambah gemericik  air dibalik jendela kamarku.Diluar sana tampak tetes air menetes perlahan-lahan membasahi tanaman anggrek kesayanganku pemberian kekasihku yang terakhir sebelum dia pergi meninggalkanku untuk selamanya .Tanpa sadar ku melayang jauh di bawah alam sadar merasakan udara malam yang mengusik ketenanganku di tempat peraduan.Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu di masa lalu.tatkala aku mengenyam bangku sma dulu.Aku teringat akan gadis pujaanku yang pernah menjadi bagian dari hidupku.ia bernama Purna Ratri atau yang lebih akrab disapa Ratri.Dialah gadis yang paling istimewa diantara gadis-gadis yang pernah mengisi lubuk hatiku.Ia adalah seorang gadis desa yang baik paras dan budinya,baik pula dalam ibadahnya,intinya dia adalah gadis yang sempurna yang diturunkan tuhan untuk mendampingiku. Dialah orang pertama yang menjadi penyemangat dalam mengarungi problematika kehidupan yang silih berganti menerpaku.Tetapi sayang kini ku takkan pernah berjumpa lagi dengannya,aku tak tahu sedang apa dirinya malam ini disana,tidurkah dia?sedang apakah dia?mungkinkah dia sekarang sedang melamunkanku seperti ku melamunkan dia?. Atau mungkin dia sedang berbahagia disana.
Aku hanya bisa tertunduk lesu mengenang saat-saat  ketika dia meninggalkanku setahun silam.Dia memang melanjutkan sekolah ke luar negeri saat itu.Dia kuliah di Al Azhar University Kairo dengan konsentrasi jurusan hukum islam dengan jalur program beasiswa dari Departemen Agama Republik Indonesia. Kekasihku memang terkenal akan kepandaiannya di sekolah ku dulu.Sehingga tak jarang banyak  temanku laki-laki menginginkan dia menjadi pacarnya.tetapi ia tak pernah menghiraukannya sama sekali. Akupun sebenarnya juga menaruh hati kepadanya tetapi ku masih belum cukup berani mengungkapkan isi hatiku.Hingga saatnya akupun mencoba untuk menguungkapkan isi hatiku kepadanya.Ia pun langsung merespon ku dengan positif.Aku menjadi bertanya-tanya dalam hatiku mengapa dia memilihku padahal banyak laki-laki yang  lebih tampan dan kaya.yang lebih dulu mengungkapkan isi hatinya sebelum aku.Pernah suatu hari ku memberanikan diri mencoba bertanya padanya.Tetapi dia menjawab dengan singkat bahwa sesungguhnya  dalam dirimu, wan tersimpan sesuatu yang lain daripada lainnya.Ia mengatakan bahwa ia merasakan suatu kenyamaanan yang luar biasa ketika bersamaku.
Menjelang hari keberangkatannya ke Mesir Ia sempat datang ke rumahku untuk berpamitan dengan keluargaku. Akupun sempat mengantarnya ke airport bersama teman-temanku sekelas. Semua ini kulakukan karena rasa cinta kupadanya. Akupun selalu berdoa kepada Tuhan semoga dia dapat meraih impian-impiannya dan senantiasa dalam lindungan-Nya dimanapun dia berada.
Beberapa hari setelah kepergiannya dari Indonesia hampir setiap saat dia menelponku.. Tetapi setelah menginjak bulan yang ketiga Ia mulai jarang berkomunikasi denganku Akupun menjadi khawatir mengenai keadaannya. Terakhir kali dia menelponku dan mengungkapkan bahwa untuk sementara dia memintaku untuk tidak menghubunginya, Dengan sabarku menanti telepon darinya.Tetapi hingga bulan ke sembilan ia tak pernah menelponku lagi. Sejak saat itu aku menjadi curiga mengapa ia tak pernah menelpon ku.Aku mencoba untuk menghubungi keluarganya.Berkali-kali aku menelponnya tetapi hasilnya nihil.Akhirnya kuputuskan untuk bertamu ke rumah keluarganya,tetapi keberuntungan senantiasa menjauh dariku.Menurut tetangganya bahwa keluarga Ratri sudah lama meninggalkan Indonesia. Entahlah mereka pergi kemana. Hatiku pun menjadi gelisah,jantungku berdetak tak karuan,hampir saja urat-urat nadiku terputus,Sejak peristiwa itu,tiap hari aku merenung memikirkan kekasihku yang kucintai hidup dan mati yang kelak ak n kujadikan istri pada saatnya nanti. Akan kujadikan dia menjadi seorang ibu bagi anak-anakku kelak. Aku hanya bisa termenung duduk dalam kesendirian berpikir dan terus berpikir untuk menemukan  jalan keluarnya.Semua pekerjaan kuliah ku biarkan  berserakan menumpuk diatas ranjang tanpa aku pegang sama sekali. Aku membolos selama beberapa hari tidak masuk kuliah. Beberapa kali aku mendapat surat panggilan dari kampus untuk menghadap dosen karena kusering tidak hadir kuliah. Di rumah yang kulakukan hanya merenung dan terus merenung. Melihat tingkah lakuku yang tak biasa. Ibuku mencoba mendekatiku dan menanyakan apa gerangan yang terjadi pada diriku. Akupun memberanikan diri untuk mengungkapkan masalah ku pada ibuku. Ibuku hanya bisa diam tak tahu apa yang harus diperbuat untuk anaknya. Ibuku hanya bisa membantuku semampunya,mengingat usia ibuku hampir satu abad.           Tentunya ia telah banyak merasakan pahit getirnya keh            idupan di dunia yang fana ini.           
Setelah beberapa bulan aku mencari berita mengenai keberadaan keluarga kekasihku, Aku memutuskan untuk menghentikan pencarian sementara waktu.Saat menonton televisi tanpa sengaja ku mendengar kabar dari Mesir bahwa  pemerintahan Mesir sedang mengalami masa  revolusi besar-besaran.Sehingga tak jarang diberitakan di berbagai media informasi lainnya  mengenai jatuhnya korban akibat dari tindakan para militan yang anti penguasa .Mendengar berita ini,Akupun kaget  dan tersentak mungkinkah Ratri mengalami nasib yang sama seperti yang diberitakan di televisi.Setelah beberapa hari muncullah berita di televisi mengenai jumlah wni yang tewas akibat revolusi di Mesir.Setelah melihat berita itu aku langsung bergegas ke Jakarta untuk melihat identitas jasad korban.Tetapi Ku sangat kecewa karena aparat keamanan melarang setiap orang yang yang tidak berkepentingan  masuk ke ruang otopsi Rumah Sakit POLRI  Kramat Jati. Akhirnya ku memutuskan untuk menginap di rumah temanku selama beberapa hari menunggu hasil otopsi.
Tibalah saatnya hari yang kutunggu-tunggu pengumuman hasil otopsi.Kupandangi satu-persatu nama-nama korban dengan teliti.Tiba-tiba air mataku menetes melihat salah satu nama yaitu Purna Ratri. Bersamaan itu pula dari belakangku muncullah seseorang yang tak asing bagiku.Kupandangi orang itu dengan saksama.Aku baru ingat ibu Ratri,dengan sigap ku berlari menghampiri Ibu Ratri diantara kerumunan warga.Setelah  kurasa dekat dengan beliau aku langsung memanggilnya, Beliaupun langsung menoleh menuju sumber suara,dengan penuh rasa terbata-bata aku menghampirinya.Aku langsung bertanya pada beliau,sedang apa gerangan disini.Dengan perasaan yang berat beliaupun bercerita,begini nak Iwan(sapaan akrabku) bahwa saya kesini mau membawa pulang jasad Ratri.Darahku langsung berhenti mengalir tatkala mendengar ucapan beliau.Aku merasakan tekanan batin yang amat berat bagaikan mendapat pukulan sesuatu yang keras.Ternyata kekasih yang selama ini aku cintai begitu cepat pergi meninggalkanku, pupus sudah harapanku merajut mimpi bersamanya ,hilang semua harapan-harapan ku.Aku berharap,ketika saatnya nanti dia akan pulang dengan membawa gelar kesarjanaanya.Tapi sayang,saat ini ia hanya membawa pulang jasad yang terbaring lemah tak bernyawa di ruang otopsi.
Dengan penuh perasaan bersalah Ibu Ratri memelukku dan berkata maafkan aku nak Iwan.Karena ibu telah memisahkan kalian berdua sehingga berakibat seperti ini.Akupun menjadi bingung apa maksudnya.Lalu ku papah pelan-pelan ibu kekasihku untuk duduk dengan tenang.Saat suasana sudah nyaman barulah beliau memulai cerita.Nak Iwan,sebenarnya ibu sangat tidak merestui hubungan kalian berdua,sebelum kejadian ini Ratri pernah meminta kepada ibu untuk pulang ke Indonesia,tetapi ibu melarangnya.Ibu khawatir kalau Ratri akan bertemu  denganmu.Untuk itu  Ibu mengganti no.handphone Ratri dengan yang baru dan kami sekeluarga pindah rumah ke Malaysia agar hubungan kamu dengan Ratri jauh.Tetapi ibu sadar dengan menjauhkan kalian berdua tidak menyelesaikan masalah tetapi malah menambah masalah.Karena merasa jauh dari nak Iwan setiap hari Ratri merasa sedih dan menyendiri. Walaupun sudah dingatkan oleh pemerintah Mesir bahwa warga Indonesia dilarang untuk keluar dari tempat yang aman sebelum ada pemberitahuan. Tetapi, Ratri tetap nekat untuk menuju airport untuk pulang ke Indonesia dalam perjalanan menuju airport inilah mobil yang ditumpanginya di bom oleh militan anti penguasa hingga akhirnya  Ratri pun tewas di tempat kejadian.Begitulah kisahnya nak Iwan  maafkan ibu nak Iwan. Maafkan Ibu Ratri karena telah menjauhkanmu dari laki-laki yang kamu cintai hingga akhirnya kau meninggal se--tragis ini..

*)Adeng Septi Irawan, Mahasiswa dan Aktivis Pecinta Sastra di UIN Sunan Ampel Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar