Oleh Adeng Septi Irawan*)
Malam yang dingin disertai hembusan angin,
perlahan-lahan mulai menusuk tulang belulang. Di luar sana tampak sinar bulan
memberikan kedamaian pada seluruh alam melalui bayangan ilusinya. Malam ini diriku
benar-benar tak bisa sedetik pun untuk memejamkan kedua bola mata. Berkali-kali
kucoba untuk menyibukkan diri agar badan ini lekas tidur. Tetapi tetap tak
memberikan efek sedikitpun,” ini sungguh aneh,” pikirku, Aku terus saja
mengingat seorang Ibu penjual nasi campur keliling disudut gang kecil samping
kampusku.
Pagi tadi aku benar-benar mengalami
kesialan luar biasa terlambat masuk kuliah. Bagaimana tidak? akibat aku tidur
terlalu malam, aku terburu-buru dan tanpa sadar aku menabrak seorang Ibu
pedagang nasi keliling di dekat kampusku. Waktu itu aku sungguh bingung dan tak
tahu harus berbuat apa.Melihat Ibu itu tergeletak tak sadarkan diri setelah ku
tabrak dengan kecepatan tinggi. Berceceran dagangannya di samping motorku, “
Sungguh sial,” dalam batinku. Hari ini adalah waktu ujian skripsi penentuan
kelulusanku dalam menempuh jenjang pendidikan strata satu. Dengan terpaksa aku
pun membawa ibu tersebut ke rumah sakit. Dengan telepon di genggamanku ku mulai
menghubungi dosen pengujiku. Untungnya dosenku mengijinkanku untuk tidak hadir
pada ujian kali ini dan diundur minggu depan.
Aku tergopoh-gopoh merasa khawatir jika
Ibu penjual nasi tadi terjadi apa-apa. “Tentunya aku akan berurusan dengan
polisi,” pikirku. Kucoba menenangkan diriku sejenak di serambi rumah sakit, Ku
mulai menghubungi kedua orang tuaku yang saat ini sedang berada di kantor
masing-masing, mulai dari mama hingga papaku, mereka hanya menjawab beri uang santunan
saja lalu tinggalkan. Tetapi ku tetap tidak bisa meninggalkan ibu itu seorang
diri. Seolah-olah ku memilki rasa bersalah yang amat besar padanya.
Sorenya aku terpaksa pulang karena aku
harus menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan ku di suatu perkumpulan
Organisasi yang aku ikuti. Sebelum ku pergi dari rumah sakit terlebih dahulu ku
menyelesaikan administrasinya., Aku berpesan kepada Dokter agar menghubungiku jika
sewaktu-waktu beliau sadar. Hatiku merasa sedikit lega sudah tidak seperti pagi
tadi, beban yang kupikul mulai sedikit berkurang.
Menjelang maghrib ku di hubungi Dokter, ia
mengatakan bahwa keadaan Ibu penjual Nasi tadi mulai membaik.Dengan penuh rasa
gembira ku menuju Rumah sakit. Sampai disana ku langsung menuju ruang perawatan.
Saat ku mulai membuka pintu dan menampakkan batang hidungku. Ku merasa ada
sesuatu yang aneh dengan ibu yang tadi kutabrak. Beliau memanggilku dengan
sebutan anak , Aku betul-betul kaget mungkinkah ibu yang tadi kutabrak
mengalami amnesia. Aku keluar dari ruang perawatan, kutanyakan semua pada
Dokter tentang keadaan sebenarnya yang terjadi dengan Ibu tadi. Dokter
mengatakan bahwa sama sekali tidak ada masalah dengan ibu tadi. Lantas mengapa
Ibu tadi memanggilku anak. Ku mulai bingung, mondar-mandir di koridor rumah
sakit. Perlahan-lahan ku datangi lagi Ibu tadi di ruang perawatan.
Tak lama kemudian mamaku datang ke rumah sakit untuk menjenguk. Saat mamaku
masuk ruang perawatan, Ibu tadi melihat dengan tatapan serius ke mamaku.dan
berkata Hesti sapaan akrab mamaku. Kenapa ibu ini mengenal nama mamaku, Ku
mulai merasakan kebingungan yang tak menentu.
Tanpa pikir panjang mamaku segera mengajakku
pulang segera tanpa alasan. Aku berusaha memberontak dan menanyakan alasan kepadanya.
Dalam batinku terasa ada keanehan yang terjadi antara mama dengan ibu penjual
nasi tadi. Mengapa Ibu tadi mengenal
nama mamaku dan mengapa aku dipaksa untuk segera pulang. Perasaan inilah yang
sedang menggelayuti pikiranku sampai larut malam hingga saat ini.
Jam telah berbunyi kencang memecah
keheningan malam menandakan bahwa saat ini telah menunjukkan pukul 00.00. dini
hari. Aku tetap saja sulit mengedipkan kedua bola mata ini. Berkali-kali ku
makan camilan kacang dibeli papa beberapa waktu lalu, agar jika kenyang nanti
akan lekas tidur. Tetapi tetap saja ku terjaga hingga pagi.
Barulah ketika menjelang adzan Subuh
berkumandang ku merasakan rasa kantuk yang berlebihan. Aku pun langsung tidur
di kursi ruang tamu. Tatkala ku memejamkan kedua bola mataku ku mulai bermimpi
untuk pertama kalinya aku dilahirkan dari rahim mamaku. Masa-masa kecil yang
termemori dalam ingatanku kembali terputar dalam mimpiku. Aku adalah anak
tunggal dari kedua orang tuaku. Sejak kecil aku selalu dimanja olehnya. Apapun
yang aku inginkan pasti akan segera mereka turuti.Mulai dari mainan yang
harganya mahal sampai pakaian yang mahal semua dengan mudah ku dapatkan.Sungguh
masa kecil yang sangat menggembirakan.
Alarm handphone ku berbunyi tepat pukul
05.30, aku segera bangun dan menjalankan Sholat subuh. Mengingat waktu sudah
siang dan aku harus segera bersiap-siap segera untuk kuliah. Mama dan papaku
sudah menungguku dari tadi di meja makan. Mereka seolah-olah memandangku dengan
penuh kasih sayang kepadaku. Mereka berharap agar ku bergegas sarapan pagi agar
tidak terlambat masuk kuliah. Aku makan pagi secukupnya untuk mengganjal perut
meskipun tidak terlalu kenyang. Tubuh yang kurang fit karena kurang tidur
akibat terjaga di malam hari sungguh membuat ku tidak nyaman. Walaupun kondisi
seperti itu aku tetap berusaha keras untuk menjalankan aktivitas sehari-hari
seperti biasanya.
Keadaan kota Jakarta pagi ini sungguh
ramai sekali, mungkin ini bertepatan dengan datangnya HUT Jakarta. Sesampai di
Kampus ku taruh motorku, sesaat setelah aku keluar dari tempat parkir. Ku
merasa ada seorang wanita yang memanggilku. Doni! Doni! , ku menoleh mencari
sumber suara tadi. Eh ternyata kau Nis, “ada apa? “ Enggak kok Don, “ ku Cuma mau
bareng jalan ma kamu aja, “ jawab Nisa
“. Ohh, kirain ada sesuatu hal penting yang ingin kamu bicarakan, “ sahutku “.
“ Don, nanti sore kau ada waktu gak? “ tolong
temenin aku beli buku di toko buku langgananku dekat pasar tanah abang ya,”
pinta nisa “. Memangnya kamu gak berani beli sendiri sa, tapi okelah entar ku
usahain, “ sahutku “. Aku segera bergegas menuju ruangan dan Nisa pun juga
menuju ruangan lain. Nisa memang temen cewekku yang paling dekat, Ia memang menaruh
hati padaku. Meskipun tidak satu jurusan, setiap kali bertemu dengan ku ia
selalu menyapaku. Sesampai di ruang kelas, ku langsung duduk dan mendengarkan
penjelasan Dosen. Ku berusaha untuk fokus memperhatikan mata kuliah etika
ekonomi yang sedang didiskusikan di kelas. Tetapi sungguh kelopak mata ini tak
sanggup membuka lebar untuk menerima ilmu . Terkaget aku, tatkala dosen kelas
menghampiri dan memanggilku dengan nada keras. Teman-teman sekelasku pun sontak
tertawa menyaksikan aksi konyol tidur, yang kulakukan di dalam kelas.
Sore ini, aku ada latihan panjat tebing di
GOR Pelita FPTI jam 15.00 wib. Sedangkan satu jam lagi ku harus mengantarkan
Nisa ke toko buku. Akhirnya ku memutuskan ikut latihan dulu baru kemudian
bergegas ke rumah Nisa. Sesampai di rumahnya, ia sudah menungguku didepan
rumahnya, Kami pun bergegas menuju lokasi. Setelah usai kami berdua langsung
pulang. Dalam perjalanan pulang ku menyempatkan diri lewat gang dekat kampusku.
Berharap bertemu dengan Ibu penjual nasi, karena ketika di rumah sakit ku tidak
sempat untuk menjemput beliau ketika akan pulang ke rumahnya. Dari kejauhan ku
melihat Ibu penjual nasi yang berjalan di pinggir jalan. Akhirnya ku
menyapanya, Ibu itu pun segera mempersilahkan Aku dan Nisa untuk bermain ke
rumahnya. Tatkala ku melihat rumahnya yang hanya terbuat dari kayu, hatiku
sungguh kasihan. Ibu bercerita pada kami bahwa ia hidup seorang diri, suaminya
telah lama meninggal. Karena kecelakaan dalam kerja 25 tahun silam. Sedangkan
anak satu-satunya meninggal ketika terjadi kebakaran di rumahnya. Waktu itu
anaknya masih berusia 1 tahun. Ketika
terjadi kebakaran ia tengah membeli bahan makanan yang akan dimasak untuk
berjualan nasi.
Suatu ketika Ibu penjual nasi ini pernah
bermimpi bahwa anaknya yang dulu terbakar ternyata tidak mati karena sesaat
setelah terbakar datanglah petugas pemadam kebakaran yang menolongnya. Lalu ia
segera menuju rumah sakit dan berniat untuk melihat keadaan anak kandungnya
yang mengalami luka bakar cukup serius di bagian lengan kanannya. Akan tetapi
sesampai di rumah sakit ibu itu kecewa karena anaknya telah diadopsi oleh
seseorang yang bernama Hesti yang tak lain adalah mamaku sendiri. Ibu tersebut
memanggilku anak ketika terbaring di rumah sakit lantaran melihat bekas luka di
lenganku. Sejenak ku terdiam dan mulai mengalami kebingungan yang teramat
sangat.
“ Nak doni, silahkan diminum dulu tehnya, “
pinta ibu tadi. Aku terjaga dari lamunan dan menyahut, “ ii..i…y..yya, bu.”.
Nisa memandangku dengan penuh tanda tanya. Aku menjadi mengerti apa yang tengah
dialami oleh si Ibu penjual nasi ini. Mengingat ketika di rumah sakit mamaku
langsung mengajakku pulang dan melarangnya untuk bertemu dengan ibu ini.
Sungguh Tuhan telah memberikan jalan dan telah menemukan ibu kandungku yang
sebenarnya. Setelah dirasa cukup bercakap-cakap dengan ibu ini, akau dan Nisa
meminta ijin untuk pulang.
Selama perjalanan pulang mataku berlinang
air mata dan seolah memendam rasa sedih yang berlebihan. Setelah kuantar Nisa
di rumahnya aku segera pulang ke rumah. Sesampai di rumah aku melihat papa dan
mamaku tengah berbincang-bincang di ruang tamu. Aku pun langsung menuju kamar
tanpa mengucap sepatah katapun kepada mereka berdua. Melihat keanehan tingkah
lakuku, Mama masuk ke kamar dan bertanya, “ Ada apa Don? Apakah ada masalah
dengan pacar kamu Nisa?” Tidak Ma, jawabku. “ Lha terus kenapa?” Tidak seperti
biasanya kamu masuk rumah dengan tanpa berkata apa-apa. “Ayo jawablah,” desak
Mamaku.
Sejenak
ku terdiam dan mulai bercerita pada mamaku. Ku mulai dengan pertanyaan pembuka.
“Ma, sebenarnya aku ini anaknya siapa?” Mama terkaget, Jelas kamu anak Mama
don. Terus Ibu penjual Nasi yang ada di rumah sakit itu siapa ma? (Mama mulai
kebingungan), “itu itu …..” Sudahlah Ma jangan berbohong,” pintaku. jawab
dengan sejujurnya.
Mama mulai bercerita, dua puluh tahun lalu
ia mengadopsi anak dari seorang Ibu yang dikira meninggal akibat kebakaran
rumah. Mama merasa bersalah karena pihak rumah sakit tidak memberikan bukti
yang valid terkait keberadaan orang tua dari anak tersebut. Sehingga Mama
mengadopsi anak tersebut. Satu tahun kemudian barulah Ibu tersebut datang dan
meminta anaknya. Mama menjadi terkejut dan berusaha untuk menjauhkan anak itu
dari ibunya. Doni Bertanya, “Siapakah anak itu, Ma? “Dengan penuh rasa bersalah
Mama menjawab, “ Kamu Don. Seketika aku terkejut dan hatiku luluh lantak bagaikan
ditelan gelombang tsunami yang maha dahsyat. Maafkan Mama don karena telah
menyembunyikan rahasia ini selama bertahun-tahun. Aku menangis terisak disertai
tangisan Mama. Ucapan mama terngiang di benakku, Mama melakukan semua ini
karena Mama sayang kamu, Don.
Aku bangun pagi-pagi sekali untuk
mempersiapkan ujian skripsi yang akan berlangsung nanti di kampus. Selama
berminggu-minggu aku mempersiapkannya, sehingga kepercayaan diri ku muncul.
Sudah ku pasang trik jitu untuk menjawab semua pertanyaan dosen penguji dengan
singkat, jelas, dan benar. Aku sengaja berangkat lebih awal dan menunggu dosen
penguji di ruang ujian skripsi. Kubiasakan menatap ruangan agar diriku terbiasa
dan tidak canggung selama ujian berlangsung. Dosen yang kutunggu pun datang
dengan mata penuh sejuta pertanyaan yang siap akan dilontarkan di depan mataku,
sehingga aku pun harus menjawab.
Selama beberapa jam aku ujian, kepalaku
menjadi pusing. Setelah usai aku langsung menuju UKS untuk istirahat. Beberapa
menit kemudian muncul Nisa dengan tergopoh-gopoh, ia seraya memanggilku, “Don…don
…. “ Bangun, ada apa aku terjaga? Dengan terpatah-patah ia mulai berkata, “ Ii...bu
..” penjual nasi kecelakaan Don di depan kampus ditabrak Mobil Dosen ketika
hendak menyeberang jalan. Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan bergegas
menuju TKP. Dengan penuh semangat aku langsung mengangkat tubuh ibu tersebut
yang tak lain adalah ibu kandungku. Aku segera memapah beliau ke dalam mobil
pak Dosen agar segera dibawa ke rumah
sakit, karena luka yang diderita beliau cukup serius di bagian kepala dan
wajah.
Sesampai di rumah sakit aku segera menyuruh
perawat untuk segera memberikan pertolongan sementara menunggu Dokter tiba.
Selang beberapa saat dokter pun tiba dengan segala peralatannya. Ia langsung
melaksanakan operasi di IGD. Satu jam kemudian Dokter muncul dan berbicara
kepadaku bahwa kondisi Ibu sangatlah kritis karena kehabisan banyak darah.
Kemungkinan untuk bertahan hidup sangatlah kecil. Aku merasa khawatir
kuputuskan untuk menginap di rumah sakit. Papa dan Mama yang sejak tadi
menelepon langsung kuangkat dan kuberitahu bahwa aku di rumah sakit menunggu
Ibu penjual nasi yang dirawat karena kecelakaan. Papa dan mama pun langsung
menuju rumah sakit untuk menjenguknya.
Pukul 23.00 wib beliau tersadar dari
tidurnya yang lama akibat operasi. Aku yang sejak tadi tertidur di samping
beliau terbangun. Entah mimpi atau nyata , Ibu tersebut mengelus kepalaku dan
berkata tentang sesuatu. Sungguh saat-saat yang paling membahagiakan ketika aku
bisa bertatap muka dengan Ibu kandungku yang telah melahirkanku ke dunia fana
ini. “ Sebelum Ibu pergi ada beberapa pesan yang akan Ibu sampaikan.” Pertama,
Jadilah anak yang selalu berbakti pada orang tua meskipun dia bukan orang tua
kandungmu. Kedua, Jadilah anak yang sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya
yang sudah meninggal. Tiba-tiba mataku melihat seberkas sinar putih yang amat
terang dan tanpa sengaja aku terbangun dari tidur.
Papa-Mama dan semua orang di sekitarku
menangis menyaksikan jenazah Ibu penjual nasi yang telah tebujur kaku tak
bernyawa. Aku segera menghampiri Papa dan Mama, lalu kusampaikan semua pesan
Ibuku sebelum beliau wafat. Perasaan sedih bercampur haru menyelimuti
perasaanku. Inilah kisah pertemuan anak dan Ibu kandungnya yang hanya terjadi
beberapa menit, sebelum sang Ibu menghembuskan nafas terakhir tanda perpisahan.
Selamat jalan Ibu, doaku menyertaimu selalu.
*)Adeng
Septi Irawan, Mahasiswa dan Pengagum Sastra di
UIN Sunan Ampel Surabaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar