Minggu, 30 Agustus 2015

CERPEN: RIWAYAT SEORANG IBU


                            Oleh Adeng Septi Irawan*)


      Malam yang dingin disertai hembusan angin, perlahan-lahan mulai menusuk tulang belulang. Di luar sana tampak sinar bulan memberikan kedamaian pada seluruh alam melalui bayangan ilusinya. Malam ini diriku benar-benar tak bisa sedetik pun untuk memejamkan kedua bola mata. Berkali-kali kucoba untuk menyibukkan diri agar badan ini lekas tidur. Tetapi tetap tak memberikan efek sedikitpun,” ini sungguh aneh,” pikirku, Aku terus saja mengingat seorang Ibu penjual nasi campur keliling disudut gang kecil samping kampusku.
      Pagi tadi aku benar-benar mengalami kesialan luar biasa terlambat masuk kuliah. Bagaimana tidak? akibat aku tidur terlalu malam, aku terburu-buru dan tanpa sadar aku menabrak seorang Ibu pedagang nasi keliling di dekat kampusku. Waktu itu aku sungguh bingung dan tak tahu harus berbuat apa.Melihat Ibu itu tergeletak tak sadarkan diri setelah ku tabrak dengan kecepatan tinggi. Berceceran dagangannya di samping motorku, “ Sungguh sial,” dalam batinku. Hari ini adalah waktu ujian skripsi penentuan kelulusanku dalam menempuh jenjang pendidikan strata satu. Dengan terpaksa aku pun membawa ibu tersebut ke rumah sakit. Dengan telepon di genggamanku ku mulai menghubungi dosen pengujiku. Untungnya dosenku mengijinkanku untuk tidak hadir pada ujian kali ini dan diundur minggu depan.
      Aku tergopoh-gopoh merasa khawatir jika Ibu penjual nasi tadi terjadi apa-apa. “Tentunya aku akan berurusan dengan polisi,” pikirku. Kucoba menenangkan diriku sejenak di serambi rumah sakit, Ku mulai menghubungi kedua orang tuaku yang saat ini sedang berada di kantor masing-masing, mulai dari mama hingga papaku, mereka hanya menjawab beri uang santunan saja lalu tinggalkan. Tetapi ku tetap tidak bisa meninggalkan ibu itu seorang diri. Seolah-olah ku memilki rasa bersalah yang amat besar padanya.
      Sorenya aku terpaksa pulang karena aku harus menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan ku di suatu perkumpulan Organisasi yang aku ikuti. Sebelum ku pergi dari rumah sakit terlebih dahulu ku menyelesaikan administrasinya., Aku berpesan kepada Dokter agar menghubungiku jika sewaktu-waktu beliau sadar. Hatiku merasa sedikit lega sudah tidak seperti pagi tadi, beban yang kupikul mulai sedikit berkurang.
      Menjelang maghrib ku di hubungi Dokter, ia mengatakan bahwa keadaan Ibu penjual Nasi tadi mulai membaik.Dengan penuh rasa gembira ku menuju Rumah sakit. Sampai disana ku langsung menuju ruang perawatan. Saat ku mulai membuka pintu dan menampakkan batang hidungku. Ku merasa ada sesuatu yang aneh dengan ibu yang tadi kutabrak. Beliau memanggilku dengan sebutan anak , Aku betul-betul kaget mungkinkah ibu yang tadi kutabrak mengalami amnesia. Aku keluar dari ruang perawatan, kutanyakan semua pada Dokter tentang keadaan sebenarnya yang terjadi dengan Ibu tadi. Dokter mengatakan bahwa sama sekali tidak ada masalah dengan ibu tadi. Lantas mengapa Ibu tadi memanggilku anak. Ku mulai bingung, mondar-mandir di koridor rumah sakit. Perlahan-lahan ku datangi lagi Ibu tadi di ruang perawatan.
      Tak lama kemudian mamaku datang ke  rumah sakit untuk menjenguk. Saat mamaku masuk ruang perawatan, Ibu tadi melihat dengan tatapan serius ke mamaku.dan berkata Hesti sapaan akrab mamaku. Kenapa ibu ini mengenal nama mamaku, Ku mulai merasakan kebingungan yang tak menentu.
      Tanpa pikir panjang mamaku segera mengajakku pulang segera tanpa alasan. Aku berusaha memberontak dan menanyakan alasan kepadanya. Dalam batinku terasa ada keanehan yang terjadi antara mama dengan ibu penjual nasi tadi. Mengapa Ibu tadi  mengenal nama mamaku dan mengapa aku dipaksa untuk segera pulang. Perasaan inilah yang sedang menggelayuti pikiranku sampai larut malam hingga saat ini.
      Jam telah berbunyi kencang memecah keheningan malam menandakan bahwa saat ini telah menunjukkan pukul 00.00. dini hari. Aku tetap saja sulit mengedipkan kedua bola mata ini. Berkali-kali ku makan camilan kacang dibeli papa beberapa waktu lalu, agar jika kenyang nanti akan lekas tidur. Tetapi tetap saja ku terjaga hingga pagi.
      Barulah ketika menjelang adzan Subuh berkumandang ku merasakan rasa kantuk yang berlebihan. Aku pun langsung tidur di kursi ruang tamu. Tatkala ku memejamkan kedua bola mataku ku mulai bermimpi untuk pertama kalinya aku dilahirkan dari rahim mamaku. Masa-masa kecil yang termemori dalam ingatanku kembali terputar dalam mimpiku. Aku adalah anak tunggal dari kedua orang tuaku. Sejak kecil aku selalu dimanja olehnya. Apapun yang aku inginkan pasti akan segera mereka turuti.Mulai dari mainan yang harganya mahal sampai pakaian yang mahal semua dengan mudah ku dapatkan.Sungguh masa kecil yang sangat menggembirakan.
      Alarm handphone ku berbunyi tepat pukul 05.30, aku segera bangun dan menjalankan Sholat subuh. Mengingat waktu sudah siang dan aku harus segera bersiap-siap segera untuk kuliah. Mama dan papaku sudah menungguku dari tadi di meja makan. Mereka seolah-olah memandangku dengan penuh kasih sayang kepadaku. Mereka berharap agar ku bergegas sarapan pagi agar tidak terlambat masuk kuliah. Aku makan pagi secukupnya untuk mengganjal perut meskipun tidak terlalu kenyang. Tubuh yang kurang fit karena kurang tidur akibat terjaga di malam hari sungguh membuat ku tidak nyaman. Walaupun kondisi seperti itu aku tetap berusaha keras untuk menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasanya.
      Keadaan kota Jakarta pagi ini sungguh ramai sekali, mungkin ini bertepatan dengan datangnya HUT Jakarta. Sesampai di Kampus ku taruh motorku, sesaat setelah aku keluar dari tempat parkir. Ku merasa ada seorang wanita yang memanggilku. Doni! Doni! , ku menoleh mencari sumber suara tadi. Eh ternyata kau Nis, “ada apa? “ Enggak kok Don, “ ku Cuma mau bareng  jalan ma kamu aja, “ jawab Nisa “. Ohh, kirain ada sesuatu hal penting yang ingin kamu bicarakan, “ sahutku “.
      “ Don, nanti sore kau ada waktu gak? “ tolong temenin aku beli buku di toko buku langgananku dekat pasar tanah abang ya,” pinta nisa “. Memangnya kamu gak berani beli sendiri sa, tapi okelah entar ku usahain, “ sahutku “. Aku segera bergegas menuju ruangan dan Nisa pun juga menuju ruangan lain. Nisa memang temen cewekku yang paling dekat, Ia memang menaruh hati padaku. Meskipun tidak satu jurusan, setiap kali bertemu dengan ku ia selalu menyapaku. Sesampai di ruang kelas, ku langsung duduk dan mendengarkan penjelasan Dosen. Ku berusaha untuk fokus memperhatikan mata kuliah etika ekonomi yang sedang didiskusikan di kelas. Tetapi sungguh kelopak mata ini tak sanggup membuka lebar untuk menerima ilmu . Terkaget aku, tatkala dosen kelas menghampiri dan memanggilku dengan nada keras. Teman-teman sekelasku pun sontak tertawa menyaksikan aksi konyol tidur, yang kulakukan di dalam kelas.
      Sore ini, aku ada latihan panjat tebing di GOR Pelita FPTI jam 15.00 wib. Sedangkan satu jam lagi ku harus mengantarkan Nisa ke toko buku. Akhirnya ku memutuskan ikut latihan dulu baru kemudian bergegas ke rumah Nisa. Sesampai di rumahnya, ia sudah menungguku didepan rumahnya, Kami pun bergegas menuju lokasi. Setelah usai kami berdua langsung pulang. Dalam perjalanan pulang ku menyempatkan diri lewat gang dekat kampusku. Berharap bertemu dengan Ibu penjual nasi, karena ketika di rumah sakit ku tidak sempat untuk menjemput beliau ketika akan pulang ke rumahnya. Dari kejauhan ku melihat Ibu penjual nasi yang berjalan di pinggir jalan. Akhirnya ku menyapanya, Ibu itu pun segera mempersilahkan Aku dan Nisa untuk bermain ke rumahnya. Tatkala ku melihat rumahnya yang hanya terbuat dari kayu, hatiku sungguh kasihan. Ibu bercerita pada kami bahwa ia hidup seorang diri, suaminya telah lama meninggal. Karena kecelakaan dalam kerja 25 tahun silam. Sedangkan anak satu-satunya meninggal ketika terjadi kebakaran di rumahnya. Waktu itu anaknya  masih berusia 1 tahun. Ketika terjadi kebakaran ia tengah membeli bahan makanan yang akan dimasak untuk berjualan nasi.
      Suatu ketika Ibu penjual nasi ini pernah bermimpi bahwa anaknya yang dulu terbakar ternyata tidak mati karena sesaat setelah terbakar datanglah petugas pemadam kebakaran yang menolongnya. Lalu ia segera menuju rumah sakit dan berniat untuk melihat keadaan anak kandungnya yang mengalami luka bakar cukup serius di bagian lengan kanannya. Akan tetapi sesampai di rumah sakit ibu itu kecewa karena anaknya telah diadopsi oleh seseorang yang bernama Hesti yang tak lain adalah mamaku sendiri. Ibu tersebut memanggilku anak ketika terbaring di rumah sakit lantaran melihat bekas luka di lenganku. Sejenak ku terdiam dan mulai mengalami kebingungan yang teramat sangat.
      “ Nak doni, silahkan diminum dulu tehnya, “ pinta ibu tadi. Aku terjaga dari lamunan dan menyahut, “ ii..i…y..yya, bu.”. Nisa memandangku dengan penuh tanda tanya. Aku menjadi mengerti apa yang tengah dialami oleh si Ibu penjual nasi ini. Mengingat ketika di rumah sakit mamaku langsung mengajakku pulang dan melarangnya untuk bertemu dengan ibu ini. Sungguh Tuhan telah memberikan jalan dan telah menemukan ibu kandungku yang sebenarnya. Setelah dirasa cukup bercakap-cakap dengan ibu ini, akau dan Nisa meminta ijin untuk pulang.
      Selama perjalanan pulang mataku berlinang air mata dan seolah memendam rasa sedih yang berlebihan. Setelah kuantar Nisa di rumahnya aku segera pulang ke rumah. Sesampai di rumah aku melihat papa dan mamaku tengah berbincang-bincang di ruang tamu. Aku pun langsung menuju kamar tanpa mengucap sepatah katapun kepada mereka berdua. Melihat keanehan tingkah lakuku, Mama masuk ke kamar dan bertanya, “ Ada apa Don? Apakah ada masalah dengan pacar kamu Nisa?” Tidak Ma, jawabku. “ Lha terus kenapa?” Tidak seperti biasanya kamu masuk rumah dengan tanpa berkata apa-apa. “Ayo jawablah,” desak Mamaku.
Sejenak ku terdiam dan mulai bercerita pada mamaku. Ku mulai dengan pertanyaan pembuka. “Ma, sebenarnya aku ini anaknya siapa?” Mama terkaget, Jelas kamu anak Mama don. Terus Ibu penjual Nasi yang ada di rumah sakit itu siapa ma? (Mama mulai kebingungan), “itu itu …..” Sudahlah Ma jangan berbohong,” pintaku. jawab dengan sejujurnya.
      Mama mulai bercerita, dua puluh tahun lalu ia mengadopsi anak dari seorang Ibu yang dikira meninggal akibat kebakaran rumah. Mama merasa bersalah karena pihak rumah sakit tidak memberikan bukti yang valid terkait keberadaan orang tua dari anak tersebut. Sehingga Mama mengadopsi anak tersebut. Satu tahun kemudian barulah Ibu tersebut datang dan meminta anaknya. Mama menjadi terkejut dan berusaha untuk menjauhkan anak itu dari ibunya. Doni Bertanya, “Siapakah anak itu, Ma? “Dengan penuh rasa bersalah Mama menjawab, “ Kamu Don. Seketika aku terkejut dan hatiku luluh lantak bagaikan ditelan gelombang tsunami yang maha dahsyat. Maafkan Mama don karena telah menyembunyikan rahasia ini selama bertahun-tahun. Aku menangis terisak disertai tangisan Mama. Ucapan mama terngiang di benakku, Mama melakukan semua ini karena Mama sayang kamu, Don.
      Aku bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan ujian skripsi yang akan berlangsung nanti di kampus. Selama berminggu-minggu aku mempersiapkannya, sehingga kepercayaan diri ku muncul. Sudah ku pasang trik jitu untuk menjawab semua pertanyaan dosen penguji dengan singkat, jelas, dan benar. Aku sengaja berangkat lebih awal dan menunggu dosen penguji di ruang ujian skripsi. Kubiasakan menatap ruangan agar diriku terbiasa dan tidak canggung selama ujian berlangsung. Dosen yang kutunggu pun datang dengan mata penuh sejuta pertanyaan yang siap akan dilontarkan di depan mataku, sehingga aku pun harus menjawab.
      Selama beberapa jam aku ujian, kepalaku menjadi pusing. Setelah usai aku langsung menuju UKS untuk istirahat. Beberapa menit kemudian muncul Nisa dengan tergopoh-gopoh, ia seraya memanggilku, “Don…don …. “ Bangun, ada apa aku terjaga? Dengan terpatah-patah ia mulai berkata, “ Ii...bu ..” penjual nasi kecelakaan Don di depan kampus ditabrak Mobil Dosen ketika hendak menyeberang jalan. Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju TKP. Dengan penuh semangat aku langsung mengangkat tubuh ibu tersebut yang tak lain adalah ibu kandungku. Aku segera memapah beliau ke dalam mobil pak Dosen  agar segera dibawa ke rumah sakit, karena luka yang diderita beliau cukup serius di bagian kepala dan wajah.
      Sesampai di rumah sakit aku segera menyuruh perawat untuk segera memberikan pertolongan sementara menunggu Dokter tiba. Selang beberapa saat dokter pun tiba dengan segala peralatannya. Ia langsung melaksanakan operasi di IGD. Satu jam kemudian Dokter muncul dan berbicara kepadaku bahwa kondisi Ibu sangatlah kritis karena kehabisan banyak darah. Kemungkinan untuk bertahan hidup sangatlah kecil. Aku merasa khawatir kuputuskan untuk menginap di rumah sakit. Papa dan Mama yang sejak tadi menelepon langsung kuangkat dan kuberitahu bahwa aku di rumah sakit menunggu Ibu penjual nasi yang dirawat karena kecelakaan. Papa dan mama pun langsung menuju rumah sakit untuk menjenguknya.
      Pukul 23.00 wib beliau tersadar dari tidurnya yang lama akibat operasi. Aku yang sejak tadi tertidur di samping beliau terbangun. Entah mimpi atau nyata , Ibu tersebut mengelus kepalaku dan berkata tentang sesuatu. Sungguh saat-saat yang paling membahagiakan ketika aku bisa bertatap muka dengan Ibu kandungku yang telah melahirkanku ke dunia fana ini. “ Sebelum Ibu pergi ada beberapa pesan yang akan Ibu sampaikan.” Pertama, Jadilah anak yang selalu berbakti pada orang tua meskipun dia bukan orang tua kandungmu. Kedua, Jadilah anak yang sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya yang sudah meninggal. Tiba-tiba mataku melihat seberkas sinar putih yang amat terang dan tanpa sengaja aku terbangun dari tidur.
      Papa-Mama dan semua orang di sekitarku menangis menyaksikan jenazah Ibu penjual nasi yang telah tebujur kaku tak bernyawa. Aku segera menghampiri Papa dan Mama, lalu kusampaikan semua pesan Ibuku sebelum beliau wafat. Perasaan sedih bercampur haru menyelimuti perasaanku. Inilah kisah pertemuan anak dan Ibu kandungnya yang hanya terjadi beberapa menit, sebelum sang Ibu menghembuskan nafas terakhir tanda perpisahan. Selamat jalan Ibu, doaku menyertaimu selalu.
*)Adeng Septi Irawan, Mahasiswa dan Pengagum Sastra di UIN Sunan Ampel Surabaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar