Minggu, 30 Agustus 2015

CERPEN: JARUM YANG BERHARGA


Oleh Adeng Septi Irawan*)

Jam di kelas menunjukkan pukul satu siang, menandakan bel sekolah berbunyi dengan nyaringnya. Teng….Teng…Tenggg …...,  Rani tersentak dari pandangannya terhadap setiap kata demi kata di papan kuno di depan kelasnya. Ia mulai sedikit demi sedikit meletakkan buku-buku yang ada di meja ke dalam tasnya. Ketua kelas mulai memimpin doa penutup sebagai tanda berakhirnya jam pelajaran pada sekolah Rani. Perlahan-lahan kelas mulai kosong ditinggalkan para penghuninya. Tiba-tiba Lina datang, “Ran, ayo pulang bareng!” Teriak Lina. Rani hanya mengangguk dan segera bergegas berjalan menuju parkir sepeda
Rani adalah seorang siswi kelas tiga pada sebuah SMA di pinggiran Kota Ogan. Ia tergolong murid yang terpandai di sekolahnya. Sehingga tak heran jika ia sering diikutsertakan perlombaan baik di tingkat kecamatan maupun kota. Kepandaiannya pun telah menjadikan ia mendapat beasiswa prestasi dari sekolahnya.
Pada siang hari yang terik seperti biasa Rani pulang bersama dengan sahabatnya Lina menggunakan sepeda mini pemberian Ayahnya. Sepeda mini ini merupakan kenang-kenangan dari ayahnya sebelum meninggalkannya. Ayah Rani meninggal setahun yang lalu lantaran mengalami kecelakaan kerja penambangan batu di daerahnya. Kini Rani hanya tinggal bersama Ibu dan adik laki-lakinya yang bernama Amin. Ketiadaan ayah menjadikannya ia harus bekerja keras bersama ibunya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Rumah Rani berjarak sekitar lima kilometer dari sekolahnya. Sesampai di rumah Rani segera meletakkan tas, kemudian membersihkan diri untuk menjalankan sholat terlebih dahulu. Rani selalu ingat pesan ayahnya “Pergunakanlah waktumu sebaik-baiknya, setiap detik jarum jam adalah sesuatu yang berharga”. Setelah itu ia mulai mempersiapkan diri untuk berjualan gorengan keliling kampung. Ibu Rani saat ini sedang berada di rumah majikannya. Sehingga ia harus mengolah dagangannya sendiri sebelum dijual ke rumah warga. Terkadang Amin yang duduk di bangku SMP membantu Rani menggoreng semua daganganya.
Rani berjalan menyusuri sawah dan ladang penduduk menjual setiap dagangannya. Sepanjang perjalanan ia senantiasa berdoa, mudah-mudahan dagangannya di hari itu habis dan ia bisa mendapat keuntungan untuk memeuhi kebutuhan keluarganya. Sesekali Rani berhenti di pematang sawah melayani para pekerja di sawah yang membeli gorengan buatannya. Rani biasanya pulang sore hari ketika daganganya sudah mulai habis.
Amin adik Rani memang ditugaskan oleh Ibunya untuk menjaga rumah. Sehingga setiap hari ia harus membersihkan dan merapikan rumahnya. Rumah berukuran enam kali empat  meter persegi ini merupakan peninggalan ayahnya, walaupun kecil dan hanya terbuat dari kayu. Rani dan Amin dua bersaudara yang rajin dalam mengurus rumahnya, sehingga meskipun mungil rumah Rani sedap dipandang mata
 Rani mulai mempersiapkan diri untuk menjalankan sholat maghrib berjamaah. Karena setiap selesai sholat maghrib ia harus mengajar mengaji al-Qur’an di desanya. Isya’ ia laksanakan berjamaah di musholla yang berjarak dua puluh meter dari rumahnya. Biasanya setelah selesai dengan aktivitasnya di Musholla, ia langsung pulang ke rumah untuk belajar. Waktu belajar Rani memang tidak biasa. Selama sehari barulah ia bisa memegang buku pelajarannya dan mengerjakan setiap tugasnya. Sungguh waktu belajar yang minim, ditambah kondisi fisik yang sudah mulai melemah karena aktivitas di siang harinya. Tetapi, tak menyurutkan semangat Rani untuk terus berjuang menggapai setiap mimpi-mimpinya. Tekad api yang ditanamkan oleh mendiang ayahnya telah tertancap kuat di dalam sanubarinya. Rani tak kenal lelah dalam belajar menggali setiap ilmu yang belum ia ketahui.
Pukul Sembilan lewat lima belas ia mulai merapikan bukunya dan segera beranjak istirahat. Pada tengah malam ia senantiasa bangun untuk menjalankan sholat malam. Sholat malam adalah tradisi di keluarga Bapak Sairi, ayah Rani. Biasanya Ibu dan Amin juga bangun untuk sekedar bermunajat kepada sang pencipta. Meskipun, tidak berjamaah, mereka sangat konsisten dalam menjalankannya. Rani seringkali tertidur di tikar habis sholat malam. Kalam ilahi menjelang Subuh tiba-tiba membangunkannya, ia langsung bergegas berwudhu untuk bersiap melaksanakan sholat subuh. Tidak seperti maghrib dan isya’ ia sholat subuh sendiri di kamarnya.
Setiap pagi sebelum membantu ibunya Rani menyempatkan diri untuk memeriksa buku di dalam tasnya. Selepas itu ia langsung menuju ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari sekaligus membeli bahan-bahan untuk dagangannya. Ibu Rani sebelum berangkat ke rumah majikannya, terlebih dahulu memasak makanan untuk sarapan kedua anaknya. Sedangkan Amin membereskan dan membersihkan rumahnya. Amin terkadang juga merawat tanaman di halaman rumahnya. Bermacam-macam tanaman ada di halaman rumahnya, mulai dari tanaman buah, obat, atau bahan masakan.
Pulang berbelanja dipasar Rani, segera mandi dan bersiap untuk menuju ke sekolahnya. Biasanya Lina sahabat Rani datang ke rumahnya. Lalu mereka berdua berangkat bersama menuju sekolah. Jalanan pinggiran kota di pagi hari sungguh menyejukkan setiap mata yang memandang. Udara pagi yang segar dan alami, seakan memberikan nuansa penyemangat bagi Rani untuk belajar menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Suasana pagi itu sungguh menengkan hati kedua insan pencari ilmu tersebut.
Jarum jam senantiasa berdetak dalam setiap Jantung Rani. Waktu yang terbuang adalah suatu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Baginya waktu adalah kesempatan dalam berbagai hal. Jangan sampai waktu terbuang sia-sia.
Situasi yang sepi menyelimuti sekolah Rani. Karena belum banyak murid yang berdatangan. Rani selalu ingat pesan ayahnya bahwa sebagai manusia harus senantiasa menghargai waktu. Sehingga ia selalu berangkat lebih awal ketimbang teman-temannya. Lina sahabat Rani pun juga memiliki paham yang sama dengannya. Meskipun hari ini tidak ada pelajaran , Rani tak mau membuang kesempatan, Ia  buka buku-buku pelajaran, dipandangi satu persatu. Buku adalah jendela dunia, barangsiapa mampu menguasai buku, maka ia akan menguasai dunia.
Sekolah Rani biasanya memberikan batasan waktu belajar bagi siswanya antara enam sampai tujuh jam. Sekolah Rani tercatat sebagai salah satu sekolah di kotanya yang menyandang gelar sekolah favorit. Lulusan-lulusan dari sekolah menegah atas tersebut telah mampu bersaing untuk masuk di perguruan tinggi ternama di Indonesia.
Jarum jam berputar dengan cepatnya hari berganti hari dan bulan berganti bulan.  Kini saatnya bagi Rani dan kawan-kawannya mengetahui pengumuman kelulusan di sekolahnya. Papan pengumuman dibanjiri oleh para siswa. Rani mulai mengamati setiap kata demi kata. Ia tersenyum menyaksikan namanya berada di urutan pertama, yang menandakan bahwa ia adalah lulusan terbaik di sekolahnya. Sungguh hal yang sangat menggembirakan tentunya. Prestasi ini adalah buah kerja keras Rani yang menghargai setiap detak jarum jam. Jarum jam yang menyatu dengan sanubarinya simbol penghargaan seorang insan manusia kepada Sang waktu.

*)Adeng Septi Irawan, Mahasiswa dan Aktivis Pecinta Sastra di UIN Sunan Ampel Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar