Oleh
Adeng Septi Irawan*)
Jam
di kelas menunjukkan pukul satu siang, menandakan bel sekolah berbunyi dengan
nyaringnya. Teng….Teng…Tenggg …..., Rani
tersentak dari pandangannya terhadap setiap kata demi kata di papan kuno di
depan kelasnya. Ia mulai sedikit demi sedikit meletakkan buku-buku yang ada di
meja ke dalam tasnya. Ketua kelas mulai memimpin doa penutup sebagai tanda
berakhirnya jam pelajaran pada sekolah Rani. Perlahan-lahan kelas mulai kosong
ditinggalkan para penghuninya. Tiba-tiba Lina datang, “Ran, ayo pulang bareng!”
Teriak Lina. Rani hanya mengangguk dan segera bergegas berjalan menuju parkir
sepeda
Rani
adalah seorang siswi kelas tiga pada sebuah SMA di pinggiran Kota Ogan. Ia
tergolong murid yang terpandai di sekolahnya. Sehingga tak heran jika ia sering
diikutsertakan perlombaan baik di tingkat kecamatan maupun kota. Kepandaiannya
pun telah menjadikan ia mendapat beasiswa prestasi dari sekolahnya.
Pada
siang hari yang terik seperti biasa Rani pulang bersama dengan sahabatnya Lina
menggunakan sepeda mini pemberian Ayahnya. Sepeda mini ini merupakan
kenang-kenangan dari ayahnya sebelum meninggalkannya. Ayah Rani meninggal
setahun yang lalu lantaran mengalami kecelakaan kerja penambangan batu di
daerahnya. Kini Rani hanya tinggal bersama Ibu dan adik laki-lakinya yang
bernama Amin. Ketiadaan ayah menjadikannya ia harus bekerja keras bersama
ibunya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Rumah
Rani berjarak sekitar lima kilometer dari sekolahnya. Sesampai di rumah Rani
segera meletakkan tas, kemudian membersihkan diri untuk menjalankan sholat
terlebih dahulu. Rani selalu ingat pesan ayahnya “Pergunakanlah waktumu
sebaik-baiknya, setiap detik jarum jam adalah sesuatu yang berharga”. Setelah
itu ia mulai mempersiapkan diri untuk berjualan gorengan keliling kampung. Ibu
Rani saat ini sedang berada di rumah majikannya. Sehingga ia harus mengolah
dagangannya sendiri sebelum dijual ke rumah warga. Terkadang Amin yang duduk di
bangku SMP membantu Rani menggoreng semua daganganya.
Rani
berjalan menyusuri sawah dan ladang penduduk menjual setiap dagangannya.
Sepanjang perjalanan ia senantiasa berdoa, mudah-mudahan dagangannya di hari
itu habis dan ia bisa mendapat keuntungan untuk memeuhi kebutuhan keluarganya.
Sesekali Rani berhenti di pematang sawah melayani para pekerja di sawah yang
membeli gorengan buatannya. Rani biasanya pulang sore hari ketika daganganya sudah
mulai habis.
Amin
adik Rani memang ditugaskan oleh Ibunya untuk menjaga rumah. Sehingga setiap
hari ia harus membersihkan dan merapikan rumahnya. Rumah berukuran enam kali
empat meter persegi ini merupakan
peninggalan ayahnya, walaupun kecil dan hanya terbuat dari kayu. Rani dan Amin
dua bersaudara yang rajin dalam mengurus rumahnya, sehingga meskipun mungil
rumah Rani sedap dipandang mata
Rani mulai mempersiapkan diri untuk
menjalankan sholat maghrib berjamaah. Karena setiap selesai sholat maghrib ia
harus mengajar mengaji al-Qur’an di desanya. Isya’ ia laksanakan berjamaah di
musholla yang berjarak dua puluh meter dari rumahnya. Biasanya setelah selesai
dengan aktivitasnya di Musholla, ia langsung pulang ke rumah untuk belajar. Waktu
belajar Rani memang tidak biasa. Selama sehari barulah ia bisa memegang buku
pelajarannya dan mengerjakan setiap tugasnya. Sungguh waktu belajar yang minim,
ditambah kondisi fisik yang sudah mulai melemah karena aktivitas di siang
harinya. Tetapi, tak menyurutkan semangat Rani untuk terus berjuang menggapai
setiap mimpi-mimpinya. Tekad api yang ditanamkan oleh mendiang ayahnya telah
tertancap kuat di dalam sanubarinya. Rani tak kenal lelah dalam belajar
menggali setiap ilmu yang belum ia ketahui.
Pukul
Sembilan lewat lima belas ia mulai merapikan bukunya dan segera beranjak
istirahat. Pada tengah malam ia senantiasa bangun untuk menjalankan sholat
malam. Sholat malam adalah tradisi di keluarga Bapak Sairi, ayah Rani. Biasanya
Ibu dan Amin juga bangun untuk sekedar bermunajat kepada sang pencipta.
Meskipun, tidak berjamaah, mereka sangat konsisten dalam menjalankannya. Rani
seringkali tertidur di tikar habis sholat malam. Kalam ilahi menjelang Subuh tiba-tiba
membangunkannya, ia langsung bergegas berwudhu untuk bersiap melaksanakan
sholat subuh. Tidak seperti maghrib dan isya’ ia sholat subuh sendiri di kamarnya.
Setiap
pagi sebelum membantu ibunya Rani menyempatkan diri untuk memeriksa buku di
dalam tasnya. Selepas itu ia langsung menuju ke pasar untuk berbelanja
kebutuhan sehari-hari sekaligus membeli bahan-bahan untuk dagangannya. Ibu Rani
sebelum berangkat ke rumah majikannya, terlebih dahulu memasak makanan untuk sarapan
kedua anaknya. Sedangkan Amin membereskan dan membersihkan rumahnya. Amin
terkadang juga merawat tanaman di halaman rumahnya. Bermacam-macam tanaman ada
di halaman rumahnya, mulai dari tanaman buah, obat, atau bahan masakan.
Pulang
berbelanja dipasar Rani, segera mandi dan bersiap untuk menuju ke sekolahnya.
Biasanya Lina sahabat Rani datang ke rumahnya. Lalu mereka berdua berangkat
bersama menuju sekolah. Jalanan pinggiran kota di pagi hari sungguh menyejukkan
setiap mata yang memandang. Udara pagi yang segar dan alami, seakan memberikan
nuansa penyemangat bagi Rani untuk belajar menuntut ilmu dengan
sungguh-sungguh. Suasana pagi itu sungguh menengkan hati kedua insan pencari
ilmu tersebut.
Jarum
jam senantiasa berdetak dalam setiap Jantung Rani. Waktu yang terbuang adalah
suatu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Baginya waktu adalah kesempatan dalam
berbagai hal. Jangan sampai waktu terbuang sia-sia.
Situasi
yang sepi menyelimuti sekolah Rani. Karena belum banyak murid yang berdatangan.
Rani selalu ingat pesan ayahnya bahwa sebagai manusia harus senantiasa
menghargai waktu. Sehingga ia selalu berangkat lebih awal ketimbang
teman-temannya. Lina sahabat Rani pun juga memiliki paham yang sama dengannya.
Meskipun hari ini tidak ada pelajaran , Rani tak mau membuang kesempatan,
Ia buka buku-buku pelajaran, dipandangi
satu persatu. Buku adalah jendela dunia, barangsiapa mampu menguasai buku, maka
ia akan menguasai dunia.
Sekolah
Rani biasanya memberikan batasan waktu belajar bagi siswanya antara enam sampai
tujuh jam. Sekolah Rani tercatat sebagai salah satu sekolah di kotanya yang
menyandang gelar sekolah favorit. Lulusan-lulusan dari sekolah menegah atas
tersebut telah mampu bersaing untuk masuk di perguruan tinggi ternama di
Indonesia.
Jarum
jam berputar dengan cepatnya hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Kini saatnya bagi Rani dan kawan-kawannya
mengetahui pengumuman kelulusan di sekolahnya. Papan pengumuman dibanjiri oleh
para siswa. Rani mulai mengamati setiap kata demi kata. Ia tersenyum
menyaksikan namanya berada di urutan pertama, yang menandakan bahwa ia adalah
lulusan terbaik di sekolahnya. Sungguh hal yang sangat menggembirakan tentunya.
Prestasi ini adalah buah kerja keras Rani yang menghargai setiap detak jarum
jam. Jarum jam yang menyatu dengan sanubarinya simbol penghargaan seorang insan
manusia kepada Sang waktu.
*)Adeng Septi
Irawan, Mahasiswa dan Aktivis Pecinta
Sastra di UIN Sunan Ampel Surabaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar