Kamis, 24 September 2015

CERPEN: BENDERA TERAKHIR


Oleh Adeng Septi Irawan*)

Hujan di malam itu sungguh lebat,pohon-pohon melambai-lambai diterpa angin nan kencang. kulihat air mulai membasahi jendela kamarku, dinding mulai basah. Perlahan kuhampiri jendela, kupandangi setiap tetes air hujan di halaman rumah. Di luar sana tampak sepi, orang-orang enggan untuk bersenda gurau di teras rumahnya tak seperti biasanya,” pikirku”. Udara dingin yang menusuk tulang belulang menjadikan setiap orang malas keluar rumah. Suasana malam itu telah mengingatkanku tentang memori masa lalu tepatnya setahun yang lalu.
Semasa kuliah aku punya teman bernama Hasyim, ia adalah seorang mahasiswa yang pandai dan aktif. Keaktifannya telah menjadikan dirinya mengikuti berbagai macam komunitas maupun organisasi di kampus. Aku dan Hasyim semula tidak saling mengenal satu sama lain, Kami bertemu ketika melakukan aksi demonstrasi turun ke jalan. Sungguh  pertemuan yang singkat, telah mengenalkanku pada sosok Hasyim, seorang mahasiswa aktivis kampus. pertemuan antara aku dengan Hasyim lama-kelamaan menjadi ikatan pertemanan yang erat.
Aku dan Hasyim memang berbeda jurusan di kampus. Ia ada di jurusan sosiologi sementara diriku ada di jurusan ilmu komunikasi. Perbedaan jurusan dan latar belakang organisasi inilah yang menyebabkan aku dan Hasyim saling bertukar informasi melalui kegiatan diskusi kecil. Setiap ada problematika baik di kampus maupun di masyarakat, aku dan Hasyim senantiasa mengkaji setiap masalahnya. Terkadang canda dan tawa menghiasi diskusi kami berdua.
Sejak SMA diriku memang memiliki hobi mendaki gunung. Hampir setiap liburan kuliah aku selalu menggunakan sedikit waktu untuk camping. Suatu ketika liburan semester pertama telah tiba, ku berencana untuk mendaki gunung mahameru. Gunung mahameru merupakan tujuan utama bagi setiap pendaki di daerahku. Dimana kondisi medan yang berat dan terjal yang menantang adrenalin. Masa kuliah berbeda dengan masa SMA, dulu ketika SMA ketika akan mendaki gunung dengan mudah ku dapatkan teman. Tetapi di masa kuliah sangat sulit mencari teman yang hobi mendaki.
Siang hari yang terik tak jauh dari tempat nongkrong para mahasiswa kampus. Kulihat Hasyim dari kejauhan. Kupanggilah dia, “Hasyim…Hasyimm…..” Teriakku. “ Iya ada apa Wan” sahut Hasyim. Akhirnya aku pun bercerita panjang lebar terkait rencanaku untuk mengajak Hasyim mendaki gunung. Hasyim menyetujuinya, karena ternyata ia juga maniak mendaki gunung. Sebagian besar gunung di daerahku telah dinaiki oleh Hasyim. Jiwa pergerakan yang mengalir di darah Hasyim telah membuktikan bahwa ia adalah seorang aktivis sejati. Setiap kali ia mendaki gunung, ketika sampai di puncak. Ia pasti mengibarkan bendera merah putih simbol kebesaran republik ini. Entah apa makna filosofis yang dilakukan Hasyim. Tetapi yang jelas ia adalah seorang mahasiswa yang berdarah pergerakan.
Tibalah saatnya bagi Hasyim, Aku, Budi, dan Ali melakukan pendakian di gunung mahameru. Kami berempat berangkat pagi dari kampus. Mengingat perjalanan menuju lokasi gunung yang lumayan jauh. Tak lupa Hasyim sang revolusioner sejati membawa bendera merah putih di ranselnya. Memang setiap orang punya kebiasaan khusus, ketika mendaki gunung. Aku pun menyadari hal itu.
Waktu berjalan cepat, kita telah tiba di lereng gunung mahameru. Kami berempat langsung bersiap-siap untuk segera mendaki. Medan yang sulit ditambah kondisi jalan yang tidak rata menjadikan kita kesulitan untuk menaklukannya. Tak terasa matahari mulai tenggelam dalam peraduan. Tatkala kami berempat sedang berjalan menyusuri jalan setapak di sebuah bukit. Kami memperkirakan kurang lebih besok pagi sudah berada di puncak gunung mahameru.
Sesekali rombongan kami bersitirahat sejenak untuk melepaskan dahaga. Menjelang tengah malam rombongan kami memutuskan untuk istirahat dan mendirikan tenda. Karena tiba-tiba turun hujan lebat disertai badai di gunung. Kami berempat pun langsung masuk ke dalam tenda dan menikmati bekal yang dibawa dari rumah. Setelah itu kami langsung beristirahat, karena esok pagi setelah subuh kita harus melanjutkan perjalanan ke puncak gunung. Saat kami sedang asyik tidur tiba-tiba Hasyim terbangun dan merasakan sesak napas di dadanya. Kami bertiga menjadi kebingungan karena obat-obatan yang dibawa tidak lengkap. Obat untuk sesak napas kita tak punya. Akhirnya perlahan-lahan kuangkat perut Hasyim sesuai petunjuk ilmu yang kudapat ketika SMA. Sedikit-sedikit sakit Hasyim mulai mereda. Lalu Hasyim mulai bercerita bahwa sebenarnya ia menderita penyakit asma. Sungguh batinku bagai disambar petir mendengarkan ungkapan Hasyim. Karena Hasyim sebelumnya tak pernah bercerita soal penyakitnya.
Cuaca gunung yang tak menentu tanpa didukung fisik yang kuat dari seorang pendaki tentunya akan memberikan beban bagi kelompoknya. Aku mulai pesimis untuk melanjutkan perjalanan. Mengingat kondisi Hasyim yang memiliki penyakit asma. Tetapi Hasyim bersikeras untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami berempat bermusyawarah dan ternyata didapatkan hasil bahwa kita harus melanjutkan perjalanan. Kessokan harinya setelah subuh kami langsung berangkat menuju puncak gunung. Sepanjang perjalanan aku selalu mengawasi Hasyim, khawatir kalau penyakit asmanya tiba-tiba kambuh. Sebetulnya penyakit Hasyim ini bisa diatasi menggunakan obat. Akan tetapi, obat tersebut lupa dibawa oleh Hasyim ketika berangkat.
Angin yang bergemuruh disertai suhu yang dingin telah menyulitkan kami berempat. Awan yang mengandung uap air dngin datang silih berganti menghampiri Kami. Berkat tekad dan semangat kami berempat mampu mengatasinya.
Perjalanan menuju puncak gunung mahameru pada kali ini sungguh mencekam. Tekad Hasyim yang tetap melanjutkan perjalanan, meskipun nyawa menjadi taruhannya adalah beban bagi kami bertiga. Hasyim adalah tipe orang yang tak mudah putus asa. Prinsip hidup yang tegar dan kuat inilah yang telah mengantarnya hingga pada ketinggian kurang lebih dua ribu kaki diatas permukaan laut.
Detik demi detik bergerak, jarum jam mulai berputar dengan koordinatnya. Kami berempat telah sampai di puncak gunung mahameru, gunung tertinggi di daerahku. Sungguh perjalanan yang menegangkan,”pikirku”. Panorama yang indah di pagi hari diatas puncak gunung sedikit melegakan hatiku. Kami pun langsung beraksi untuk mencari gambar yang bagus melalui kamera. Hasyim terlihat mencari tongkat kayu untuk mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung. Kami bertiga membantu Hasyim mengibarkan bendera. Tongkat telah kita dapatkan, Hasyim segera mengikat bendera pada tongkat tersebut. Tiba-tiba kami terkaget melihat hakim terjatuh dan pingsan sesaat setelah menancapkan bendera merah putih di tanah. “Bruk…gedebug…., ,” kudengar suaranya keras. Kami bertiga langsung menghampiri Hasyim dan memberikan pertolongan secepatnya.
Kurang lebih lima belas menit aku memberikan pertolongan kepada Hasyim. Tetapi ia tak kunjung bangun dari pingsannya. Kusentuh jemari Hasyim yang mulai dingin dan pucat, kuraba nadi di pergelengan tangannya. Aku mulai tersadar bahwa Hasyim sudah meninggal beberapa detik yang lalu. Akibat kelelahan dan kehabisan oksigen di dalam tubuhnya. Kami bertiga hanya bisa tertunduk lesu dan perlahan air mata membasahi pipi. “Hasyim, secepat inikah dirimu meninggalkan dunia ini, dunia yang butuh akan perjuanganmu,” batinku.
Kau cermin mahasiswa pejuang, penegak kedaulatan rakyat. Suara orasimu ketika demosntrasi sungguh lantang bagaikan proklamator abad modern. Tetapi kini kau telah tiada, Bendera Sang Saka Merah Putih yang kau tancapkan di puncak ini menjadi bendera terakhirmu. Perjuanganmu akan selalu teringat sepanjang masa. Sang Saka Merah Putih yang tertancap di puncak gunung mahameru saksi hidupmu.
*)Adeng Septi Irawan, Penggiat dan aktivis sastra UIN Sunan Ampel Surabaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar