Hujan
di malam itu sungguh lebat,pohon-pohon melambai-lambai diterpa angin nan
kencang. kulihat air mulai membasahi jendela kamarku, dinding mulai basah.
Perlahan kuhampiri jendela, kupandangi setiap tetes air hujan di halaman rumah.
Di luar sana tampak sepi, orang-orang enggan untuk bersenda gurau di teras
rumahnya tak seperti biasanya,” pikirku”. Udara dingin yang menusuk tulang belulang
menjadikan setiap orang malas keluar rumah. Suasana malam itu telah
mengingatkanku tentang memori masa lalu tepatnya setahun yang lalu.
Semasa
kuliah aku punya teman bernama Hasyim, ia adalah seorang mahasiswa yang pandai
dan aktif. Keaktifannya telah menjadikan dirinya mengikuti berbagai macam
komunitas maupun organisasi di kampus. Aku dan Hasyim semula tidak saling
mengenal satu sama lain, Kami bertemu ketika melakukan aksi demonstrasi turun
ke jalan. Sungguh pertemuan yang singkat,
telah mengenalkanku pada sosok Hasyim, seorang mahasiswa aktivis kampus.
pertemuan antara aku dengan Hasyim lama-kelamaan menjadi ikatan pertemanan yang
erat.
Aku
dan Hasyim memang berbeda jurusan di kampus. Ia ada di jurusan sosiologi
sementara diriku ada di jurusan ilmu komunikasi. Perbedaan jurusan dan latar
belakang organisasi inilah yang menyebabkan aku dan Hasyim saling bertukar informasi
melalui kegiatan diskusi kecil. Setiap ada problematika baik di kampus maupun
di masyarakat, aku dan Hasyim senantiasa mengkaji setiap masalahnya. Terkadang
canda dan tawa menghiasi diskusi kami berdua.
Sejak
SMA diriku memang memiliki hobi mendaki gunung. Hampir setiap liburan kuliah
aku selalu menggunakan sedikit waktu untuk camping. Suatu ketika liburan semester
pertama telah tiba, ku berencana untuk mendaki gunung mahameru. Gunung mahameru
merupakan tujuan utama bagi setiap pendaki di daerahku. Dimana kondisi medan
yang berat dan terjal yang menantang adrenalin. Masa kuliah berbeda dengan masa
SMA, dulu ketika SMA ketika akan mendaki gunung dengan mudah ku dapatkan teman.
Tetapi di masa kuliah sangat sulit mencari teman yang hobi mendaki.
Siang
hari yang terik tak jauh dari tempat nongkrong para mahasiswa kampus. Kulihat
Hasyim dari kejauhan. Kupanggilah dia, “Hasyim…Hasyimm…..” Teriakku. “ Iya ada
apa Wan” sahut Hasyim. Akhirnya aku pun bercerita panjang lebar terkait
rencanaku untuk mengajak Hasyim mendaki gunung. Hasyim menyetujuinya, karena
ternyata ia juga maniak mendaki gunung. Sebagian besar gunung di daerahku telah
dinaiki oleh Hasyim. Jiwa pergerakan yang mengalir di darah Hasyim telah membuktikan
bahwa ia adalah seorang aktivis sejati. Setiap kali ia mendaki gunung, ketika
sampai di puncak. Ia pasti mengibarkan bendera merah putih simbol kebesaran
republik ini. Entah apa makna filosofis yang dilakukan Hasyim. Tetapi yang
jelas ia adalah seorang mahasiswa yang berdarah pergerakan.
Tibalah
saatnya bagi Hasyim, Aku, Budi, dan Ali melakukan pendakian di gunung mahameru.
Kami berempat berangkat pagi dari kampus. Mengingat perjalanan menuju lokasi
gunung yang lumayan jauh. Tak lupa Hasyim sang revolusioner sejati membawa
bendera merah putih di ranselnya. Memang setiap orang punya kebiasaan khusus,
ketika mendaki gunung. Aku pun menyadari hal itu.
Waktu
berjalan cepat, kita telah tiba di lereng gunung mahameru. Kami berempat
langsung bersiap-siap untuk segera mendaki. Medan yang sulit ditambah kondisi
jalan yang tidak rata menjadikan kita kesulitan untuk menaklukannya. Tak terasa
matahari mulai tenggelam dalam peraduan. Tatkala kami berempat sedang berjalan
menyusuri jalan setapak di sebuah bukit. Kami memperkirakan kurang lebih besok
pagi sudah berada di puncak gunung mahameru.
Sesekali
rombongan kami bersitirahat sejenak untuk melepaskan dahaga. Menjelang tengah
malam rombongan kami memutuskan untuk istirahat dan mendirikan tenda. Karena
tiba-tiba turun hujan lebat disertai badai di gunung. Kami berempat pun
langsung masuk ke dalam tenda dan menikmati bekal yang dibawa dari rumah.
Setelah itu kami langsung beristirahat, karena esok pagi setelah subuh kita
harus melanjutkan perjalanan ke puncak gunung. Saat kami sedang asyik tidur
tiba-tiba Hasyim terbangun dan merasakan sesak napas di dadanya. Kami bertiga
menjadi kebingungan karena obat-obatan yang dibawa tidak lengkap. Obat untuk
sesak napas kita tak punya. Akhirnya perlahan-lahan kuangkat perut Hasyim
sesuai petunjuk ilmu yang kudapat ketika SMA. Sedikit-sedikit sakit Hasyim
mulai mereda. Lalu Hasyim mulai bercerita bahwa sebenarnya ia menderita penyakit
asma. Sungguh batinku bagai disambar petir mendengarkan ungkapan Hasyim. Karena
Hasyim sebelumnya tak pernah bercerita soal penyakitnya.
Cuaca
gunung yang tak menentu tanpa didukung fisik yang kuat dari seorang pendaki
tentunya akan memberikan beban bagi kelompoknya. Aku mulai pesimis untuk
melanjutkan perjalanan. Mengingat kondisi Hasyim yang memiliki penyakit asma.
Tetapi Hasyim bersikeras untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami berempat
bermusyawarah dan ternyata didapatkan hasil bahwa kita harus melanjutkan
perjalanan. Kessokan harinya setelah subuh kami langsung berangkat menuju
puncak gunung. Sepanjang perjalanan aku selalu mengawasi Hasyim, khawatir kalau
penyakit asmanya tiba-tiba kambuh. Sebetulnya penyakit Hasyim ini bisa diatasi
menggunakan obat. Akan tetapi, obat tersebut lupa dibawa oleh Hasyim ketika
berangkat.
Angin
yang bergemuruh disertai suhu yang dingin telah menyulitkan kami berempat. Awan
yang mengandung uap air dngin datang silih berganti menghampiri Kami. Berkat tekad
dan semangat kami berempat mampu mengatasinya.
Perjalanan
menuju puncak gunung mahameru pada kali ini sungguh mencekam. Tekad Hasyim yang
tetap melanjutkan perjalanan, meskipun nyawa menjadi taruhannya adalah beban
bagi kami bertiga. Hasyim adalah tipe orang yang tak mudah putus asa. Prinsip
hidup yang tegar dan kuat inilah yang telah mengantarnya hingga pada ketinggian
kurang lebih dua ribu kaki diatas permukaan laut.
Detik
demi detik bergerak, jarum jam mulai berputar dengan koordinatnya. Kami berempat
telah sampai di puncak gunung mahameru, gunung tertinggi di daerahku. Sungguh
perjalanan yang menegangkan,”pikirku”. Panorama yang indah di pagi hari diatas
puncak gunung sedikit melegakan hatiku. Kami pun langsung beraksi untuk mencari
gambar yang bagus melalui kamera. Hasyim terlihat mencari tongkat kayu untuk
mengibarkan bendera merah putih di puncak gunung. Kami bertiga membantu Hasyim
mengibarkan bendera. Tongkat telah kita dapatkan, Hasyim segera mengikat
bendera pada tongkat tersebut. Tiba-tiba kami terkaget melihat hakim terjatuh
dan pingsan sesaat setelah menancapkan bendera merah putih di tanah. “Bruk…gedebug….,
,” kudengar suaranya keras. Kami bertiga langsung menghampiri Hasyim dan
memberikan pertolongan secepatnya.
Kurang
lebih lima belas menit aku memberikan pertolongan kepada Hasyim. Tetapi ia tak
kunjung bangun dari pingsannya. Kusentuh jemari Hasyim yang mulai dingin dan
pucat, kuraba nadi di pergelengan tangannya. Aku mulai tersadar bahwa Hasyim
sudah meninggal beberapa detik yang lalu. Akibat kelelahan dan kehabisan
oksigen di dalam tubuhnya. Kami bertiga hanya bisa tertunduk lesu dan perlahan
air mata membasahi pipi. “Hasyim, secepat inikah dirimu meninggalkan dunia ini,
dunia yang butuh akan perjuanganmu,” batinku.
Kau
cermin mahasiswa pejuang, penegak kedaulatan rakyat. Suara orasimu ketika
demosntrasi sungguh lantang bagaikan proklamator abad modern. Tetapi kini kau
telah tiada, Bendera Sang Saka Merah Putih yang kau tancapkan di puncak ini
menjadi bendera terakhirmu. Perjuanganmu akan selalu teringat sepanjang masa.
Sang Saka Merah Putih yang tertancap di puncak gunung mahameru saksi hidupmu.
*)Adeng Septi Irawan, Penggiat dan aktivis
sastra UIN Sunan Ampel Surabaya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar