Oleh Adeng Septi Irawan*)
Tubuh yang mulai dingin dan kaku pada sebuah kamar di salah satu
sudut rumah sakit. Luka yang menganga, darah yang mengucur deras dari kulit
yang mulai memudar warnanya. Kecelakaan yang terjadi pagi tadi menjadi akhir
bagi perjuangan seorang manusis berhati malaikat yang hidup di dunia. Sebuah
bus dengan kecepatan tinggi menabrak mobil di ruas jalan tol di ibukota.
Mengakibatkan pengemudi mobil tewas di tempat kejadian. Berita ini begitu
menggemparkan dunia. Karena kebetulan yang meninggal adalah manusia berhati
malaikat. Malaikat yang senantiasa mengabdi bagi sesamanya dan berjuang demi
keikhlasan.
Warga ibukota berduyun-duyun mengunjungi Rumah sakit dimana Firda
seorang manusia berhati malaikat disemayamkan. Orang Tuanya hanya bisa pasrah
melepas kepergian putri yang dicintainya. Semua warga yang pernah ditolong
olehnya menangis, karena kehilangan sosok Firda yang meninggal se-tragis ini.
Bumi ikut menangis merasakan kepedihan yang mendalam tentang kepergian malaikat
yang dirindukan manusia.
Firda adalah seorang mahasiswa jurusan psikologi pada salah satu
universitas terkemuka di ibukota. Semenjak mahasiswa ia sangat aktif dalam
berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia pernah terpilih menjadi duta sosial
yang mewakili kampus pada tingkat nasional.
Aku adalah teman akrab Firda yang seringkali menemaninya dalam
setiap suka maupun duka. Sejak kenal dengannya, aku merasakan hal yang berbeda.
Setahuku Firda adalah seorang teman yang sangat baik hati. Suatu ketika diriku
pernah kehabisan uang. Lantaran kiriman dari orang tua ku terlambat datang.
Akibatnya, diriku tak bisa membayar uang kuliah apalagi uang kos. Hingga pada
akhirnya aku hampir putus asa karena sudah tak ada uang sama sekali di
kantongku. Aku sengaja memang menyembunyikan masalah agar tidak diketahui oleh
Firda. Tetapi Firda mengetahui masalahku ketika tanpa sengaja ia membaca buku
diary yang ada didalam laci almariku.
Sungguh malu rasanya harus berhutang budi pada seorang teman akrab.
Apalagi sama-sama belum bekerja. Tetapi itulah Firda seorang manusia berhati
malaikat yang pernah kutemui di belahan bumi ini. Tak hanya itu saja suatu
ketika diriku juga pernah melihat Firda mengajar membaca dan menulis anak
jalanan di pinggir jalan pada sore hari. Ia sangat gembira bisa menyalurkan
ilmu yang didapatkannya kepada para anak-anak yang tidak mampu untuk sekolah
lantaran persoalan biaya. Malu rasanya menjadi hal yang kesekian kali di mata
Firda. Gerakan nyata tanpa banyak teori adalah penuntunnya berpijak dalam
membantu setiap orang.
Firda yang kukenal adalah sosok yang sangat manis bagi orang yang
melihatnya. Pada suatu saat kampus mengadakan acara pengabdian masyarakat di
daerah tasikmalaya. Maka dibukalah pendaftaran bagi mahasiswa yang ingin
menjadi relawan. Ketika mendengar berita itu ia langsung bergegas untuk segera
mendaftar acara pengabdian masyarakat. Kulihat data pendaftar dialah orang yang
pertama mengajukan dirinya untuk menjadi relawan. Sebulan ku ditinggal olehnya
untuk mengikuti kegiatan Kampus di desa.
Hari-hariku seakan hampa tanpa hadirnya seorang malaikat yang
senantiasa menemaniku setiap waktu. Malaikat yang bersosok manusia yang bernama
Firda. Sebulan telah berlalu kini aku bisa bertemu dan bercanda tawa lagi
dengannya. Ketika di kos ia senantiasa menceritakan segala pengalaman yang ia
dapatkan ketika menjadi relawan dalam kegiatan kampus. Sehari-hari ia
senantiasa bersamaku kemanapun ia pergi. Rasa bosan dan capek terkadang menjadi
bagian dalam hidupku yang terus menemaniku. Semenjak naik ke semester lima
Firda hampir setiap malam tidak pernah tidur di kos. Ia dengan semangat
membantu para wanita tunasusila untuk mengembangkan bisnis pakaian. Ia dengan
pendekatan psikologis yang baik mampu memberikan suasana menyegarkan bagi
kalangan wanita penghibur di ibukota. Ia sengaja melakukan semua itu untuk
membantu wanita tersebut agar tidak jatuh dalam lubang zina yang jelas dilarang
oleh agama islam.
Kepedulian yang luar biasa dari sosok Firda telah menjadi inspirasi
bagi setiap pemuda-pemudi. Kita semua tahu mayoritas mahasiswa hanya sibuk
dengan tugas kuliah tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Tetai berbeda dengan
Firda yang senantiasa mampu membagi waktu antara kuliah dan membantu sesama.
Donor darah yang dilakukan oleh Palang Merah Indonesia setiap bulan
di kampus menjadi ajang bagi Firda untuk berbagi. Sungguh mulia perbuatannya,
tanpa mengharapkan imbalan apapun ia ikhlas dalam berkorban. Ia pernah
mengatakan suatu semboyan yang terus aku ingat sampai saat ini. Pengabdian itu
pengorbanan, pengorbanan itu keikhlasan, dan keikhlasan itu niat tulus dari
hati. Sosok Firda yang bersahaja, cerdas, dan terampil menjadi sebuah gambaran
teladan bagi mahasiswa zaman ini.
Ada sebuah kejadian yang membuat hati ini terenyuh. Suatu hari aku
dan Firda berjalan-jalan di pinggiran kota. Tiba-tiba ada sebuah mobil jeep
dengan kecepatan tinggi menabrak seorang ibu paruh baya yang tengah menggendong
anaknya. Akibatnya ia terlempar jauh dari lokasi kejadian yang mengakibatkan
ibu tersebut meregang nyawa. Melihat kejadian tersebut lantas ia langsung
bergegas menyelamatkan bayinya yang saat itu masih bernafas. Firda langsung
naik taksi demi untuk menyelamatkan nyawa sang bayi. Perjuangan Firda tak
berhenti di situ saja. Ia rela mencari sumbangan untuk biaya rumah sakit bayi
malang tersebut. dengan beberapa perlengkapan ia mulai berjalan di trotoar dan
traffic light hanya untuk biaya pengobatan sang bayi. Ia bukan keluarga bayi,
tetapirasa memiliki yang besar terhadap makhluk ciptaan tuhan telah
mendorongnya untuk berkorban.
Empat tahun bersamanya dalam suka dan duka masa-masa kuliah menjadi
kenangan tersendiri bagi kami berdua. Kini aku harus kembali ke kampung
halamanku di Brebes. Sedangkan Firda harus kembali ke daerah asalnya di
Semarang. Kami masih tetap berkomunikasi menanyakan perihal pekerjaan atau
sekedar melepas kerinduan terhadap sahab lama.
Firda telah bekerja pada yayasan amal peduli kasih. Ia menjadi
manajer di kantor yaysan tersebut di Semarang. Ia juga telah menikah dengan
seorang pegawai pemerintahan. Sementara diriku hanya sebagai ibu rumah tangga
yang merawat anak laki-laki hasil dari pernikahanku dengan seorang tentara.
Firda adalah sosok yang mengagumkan bagi setiap manusia yang ada di dekatnya.
Pernikahan Firda dengan seorang pegawai pemerintahan baru berlangsung beberapa
bulan yang lalu. Aku dan suamiku juga sempat datang pada saat resepsi
pernikahan digelar di kediamannya di Semarang.
Lima bulan setelah menikah, ketika Firda melakukan perjalanan dinas
untuk melakukan survey pada penderita kusta di daerah rawamangun, Jakarta Ia
Berangkat seorang diri menggunakan mobil pribadinya. Firda tak mau ditemani
oleh stafnya, lantaran malah menjadi persoalan ketika melakukan pendataan orban
kusta di rawamangun. Sayang sekali niat tulus Firda untuk membantu sesame harus
terhenti disini. Tepat pukul 04.30 pagi mobil yang ia kemudikan tertabrak bus
jurusan Jakarta-Indramayu di sebuah ruas tol di ibukota. Akibatnya, Firda
meninggal di lokasi kejadian karena kehabisan banyak darah. Firda seorang
manusia yang berhati malaikat yang telah selesai menjalankan misi kemanusiaan.
Sosok humanis yang tak kenal lelah dalm berjuang dan berkorban. Seorang
perempuan berhati malakat yang pernah akau temui d dunia ini. Selamat jalan
Firda perjuanganmu akan tetap berlanjut. Meskipun dikau telah tenang di alam
sana.
*)Adeng Septi Irawan, Penulis
esai, opini, puisi, dan cerpen di Generasi
Pecinta Sastra (GATRA) UIN Sunan Ampel Surabaya Aktif di Unit Kegiatan
Pengembangan Intelektual UINSA,Selain itu juga pernah menjadi kontributor puisi
pada buku lukisan diatas hamparan air penerbit rasibook, buku gravitasi
penerbit dasta media,dll. alamat
domisisli di Dinoyo Alun-alun IV/10 Keputran Surabaya bisa dihubungi pada
HP.085724663650 email irawan_34@yahoo.com atau FB Adeng Septi Irawan. Kumpulan sastra karyaku bisa dilihat
di Blog pribadi update: http://irhana-sastra.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar