Jumat, 29 Januari 2016

CERPEN: BAGAIKAN HATI MALAIKAT



Oleh Adeng Septi Irawan*)

Tubuh yang mulai dingin dan kaku pada sebuah kamar di salah satu sudut rumah sakit. Luka yang menganga, darah yang mengucur deras dari kulit yang mulai memudar warnanya. Kecelakaan yang terjadi pagi tadi menjadi akhir bagi perjuangan seorang manusis berhati malaikat yang hidup di dunia. Sebuah bus dengan kecepatan tinggi menabrak mobil di ruas jalan tol di ibukota. Mengakibatkan pengemudi mobil tewas di tempat kejadian. Berita ini begitu menggemparkan dunia. Karena kebetulan yang meninggal adalah manusia berhati malaikat. Malaikat yang senantiasa mengabdi bagi sesamanya dan berjuang demi keikhlasan.
Warga ibukota berduyun-duyun mengunjungi Rumah sakit dimana Firda seorang manusia berhati malaikat disemayamkan. Orang Tuanya hanya bisa pasrah melepas kepergian putri yang dicintainya. Semua warga yang pernah ditolong olehnya menangis, karena kehilangan sosok Firda yang meninggal se-tragis ini. Bumi ikut menangis merasakan kepedihan yang mendalam tentang kepergian malaikat yang dirindukan manusia.
Firda adalah seorang mahasiswa jurusan psikologi pada salah satu universitas terkemuka di ibukota. Semenjak mahasiswa ia sangat aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Ia pernah terpilih menjadi duta sosial yang mewakili kampus pada tingkat nasional.
Aku adalah teman akrab Firda yang seringkali menemaninya dalam setiap suka maupun duka. Sejak kenal dengannya, aku merasakan hal yang berbeda. Setahuku Firda adalah seorang teman yang sangat baik hati. Suatu ketika diriku pernah kehabisan uang. Lantaran kiriman dari orang tua ku terlambat datang. Akibatnya, diriku tak bisa membayar uang kuliah apalagi uang kos. Hingga pada akhirnya aku hampir putus asa karena sudah tak ada uang sama sekali di kantongku. Aku sengaja memang menyembunyikan masalah agar tidak diketahui oleh Firda. Tetapi Firda mengetahui masalahku ketika tanpa sengaja ia membaca buku diary yang ada didalam laci almariku.
Sungguh malu rasanya harus berhutang budi pada seorang teman akrab. Apalagi sama-sama belum bekerja. Tetapi itulah Firda seorang manusia berhati malaikat yang pernah kutemui di belahan bumi ini. Tak hanya itu saja suatu ketika diriku juga pernah melihat Firda mengajar membaca dan menulis anak jalanan di pinggir jalan pada sore hari. Ia sangat gembira bisa menyalurkan ilmu yang didapatkannya kepada para anak-anak yang tidak mampu untuk sekolah lantaran persoalan biaya. Malu rasanya menjadi hal yang kesekian kali di mata Firda. Gerakan nyata tanpa banyak teori adalah penuntunnya berpijak dalam membantu setiap orang.
Firda yang kukenal adalah sosok yang sangat manis bagi orang yang melihatnya. Pada suatu saat kampus mengadakan acara pengabdian masyarakat di daerah tasikmalaya. Maka dibukalah pendaftaran bagi mahasiswa yang ingin menjadi relawan. Ketika mendengar berita itu ia langsung bergegas untuk segera mendaftar acara pengabdian masyarakat. Kulihat data pendaftar dialah orang yang pertama mengajukan dirinya untuk menjadi relawan. Sebulan ku ditinggal olehnya untuk mengikuti kegiatan Kampus di desa.
Hari-hariku seakan hampa tanpa hadirnya seorang malaikat yang senantiasa menemaniku setiap waktu. Malaikat yang bersosok manusia yang bernama Firda. Sebulan telah berlalu kini aku bisa bertemu dan bercanda tawa lagi dengannya. Ketika di kos ia senantiasa menceritakan segala pengalaman yang ia dapatkan ketika menjadi relawan dalam kegiatan kampus. Sehari-hari ia senantiasa bersamaku kemanapun ia pergi. Rasa bosan dan capek terkadang menjadi bagian dalam hidupku yang terus menemaniku. Semenjak naik ke semester lima Firda hampir setiap malam tidak pernah tidur di kos. Ia dengan semangat membantu para wanita tunasusila untuk mengembangkan bisnis pakaian. Ia dengan pendekatan psikologis yang baik mampu memberikan suasana menyegarkan bagi kalangan wanita penghibur di ibukota. Ia sengaja melakukan semua itu untuk membantu wanita tersebut agar tidak jatuh dalam lubang zina yang jelas dilarang oleh agama islam.
Kepedulian yang luar biasa dari sosok Firda telah menjadi inspirasi bagi setiap pemuda-pemudi. Kita semua tahu mayoritas mahasiswa hanya sibuk dengan tugas kuliah tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Tetai berbeda dengan Firda yang senantiasa mampu membagi waktu antara kuliah dan membantu sesama.
Donor darah yang dilakukan oleh Palang Merah Indonesia setiap bulan di kampus menjadi ajang bagi Firda untuk berbagi. Sungguh mulia perbuatannya, tanpa mengharapkan imbalan apapun ia ikhlas dalam berkorban. Ia pernah mengatakan suatu semboyan yang terus aku ingat sampai saat ini. Pengabdian itu pengorbanan, pengorbanan itu keikhlasan, dan keikhlasan itu niat tulus dari hati. Sosok Firda yang bersahaja, cerdas, dan terampil menjadi sebuah gambaran teladan bagi mahasiswa zaman ini.
Ada sebuah kejadian yang membuat hati ini terenyuh. Suatu hari aku dan Firda berjalan-jalan di pinggiran kota. Tiba-tiba ada sebuah mobil jeep dengan kecepatan tinggi menabrak seorang ibu paruh baya yang tengah menggendong anaknya. Akibatnya ia terlempar jauh dari lokasi kejadian yang mengakibatkan ibu tersebut meregang nyawa. Melihat kejadian tersebut lantas ia langsung bergegas menyelamatkan bayinya yang saat itu masih bernafas. Firda langsung naik taksi demi untuk menyelamatkan nyawa sang bayi. Perjuangan Firda tak berhenti di situ saja. Ia rela mencari sumbangan untuk biaya rumah sakit bayi malang tersebut. dengan beberapa perlengkapan ia mulai berjalan di trotoar dan traffic light hanya untuk biaya pengobatan sang bayi. Ia bukan keluarga bayi, tetapirasa memiliki yang besar terhadap makhluk ciptaan tuhan telah mendorongnya untuk berkorban.
Empat tahun bersamanya dalam suka dan duka masa-masa kuliah menjadi kenangan tersendiri bagi kami berdua. Kini aku harus kembali ke kampung halamanku di Brebes. Sedangkan Firda harus kembali ke daerah asalnya di Semarang. Kami masih tetap berkomunikasi menanyakan perihal pekerjaan atau sekedar melepas kerinduan terhadap sahab lama.
Firda telah bekerja pada yayasan amal peduli kasih. Ia menjadi manajer di kantor yaysan tersebut di Semarang. Ia juga telah menikah dengan seorang pegawai pemerintahan. Sementara diriku hanya sebagai ibu rumah tangga yang merawat anak laki-laki hasil dari pernikahanku dengan seorang tentara. Firda adalah sosok yang mengagumkan bagi setiap manusia yang ada di dekatnya. Pernikahan Firda dengan seorang pegawai pemerintahan baru berlangsung beberapa bulan yang lalu. Aku dan suamiku juga sempat datang pada saat resepsi pernikahan digelar di kediamannya di Semarang.
Lima bulan setelah menikah, ketika Firda melakukan perjalanan dinas untuk melakukan survey pada penderita kusta di daerah rawamangun, Jakarta Ia Berangkat seorang diri menggunakan mobil pribadinya. Firda tak mau ditemani oleh stafnya, lantaran malah menjadi persoalan ketika melakukan pendataan orban kusta di rawamangun. Sayang sekali niat tulus Firda untuk membantu sesame harus terhenti disini. Tepat pukul 04.30 pagi mobil yang ia kemudikan tertabrak bus jurusan Jakarta-Indramayu di sebuah ruas tol di ibukota. Akibatnya, Firda meninggal di lokasi kejadian karena kehabisan banyak darah. Firda seorang manusia yang berhati malaikat yang telah selesai menjalankan misi kemanusiaan. Sosok humanis yang tak kenal lelah dalm berjuang dan berkorban. Seorang perempuan berhati malakat yang pernah akau temui d dunia ini. Selamat jalan Firda perjuanganmu akan tetap berlanjut. Meskipun dikau telah tenang di alam sana.

*)Adeng Septi Irawan, Penulis esai, opini, puisi, dan cerpen di Generasi Pecinta Sastra (GATRA) UIN Sunan Ampel Surabaya Aktif di Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual UINSA,Selain itu juga pernah menjadi kontributor puisi pada buku lukisan diatas hamparan air penerbit rasibook, buku gravitasi penerbit dasta media,dll.  alamat domisisli di Dinoyo Alun-alun IV/10 Keputran Surabaya bisa dihubungi pada HP.085724663650 email irawan_34@yahoo.com atau FB Adeng Septi Irawan. Kumpulan sastra karyaku bisa dilihat di Blog pribadi update: http://irhana-sastra.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar