Oleh Adeng Septi Irawan*)
Pagi hari yang cerah, mentari yang bersinar terang menerpa embun
pagi yang tengah menyelimuti desa. Suasana sejuk dan hangat menyelimuti tubuh
mungil ini. Seperti biasa ku mengayuh sepeda tua menuju sekolah yang berjarak
lumayan jauh dari rumah. Sejak kecil diriku memang telah terbiasa bangun
sebelum subuh. Sembahyang subuh biasa kulakukan dengan berjamaah di surau
terdekat samping rumah. Barulah setelah selesai ku membantu Ibu membawakan
dagangan dari pasar untuk digunakan berjualan.
Tepat pukul tujuh kurang seperempat aku telah tiba di Sekolah. Aku
memang orang yang disiplin waktu dan tidak suka membiasakan diri terlambat. Ku
Parkir sepeda di samping kelas dan bergegas menuju kelas. Mata memandang dari
kejauhan ku melihat seorang gadis dengan kerudung merah jambu berjalan cepat
sambil membawa beberapa buku entah darimana ia dapatkan. Kelihatannya ia bukan
murid sekolah ini, lantas apa yang dilakukan disini. Tiba-tiba terdengar suara
brruuuukkk,,,,.. ia menabrakku, buku berceceran di depan kelas. Diriku hanya
terdiam tanpa kata dan hanya menyaksikan begitu saja. Seolah-opah kejadian
begitu cepat. Tanpa sadar gadis tersebut langsung mengemasi buku dan beranjak
pergi dari hadapanku.
Ku tak sanggup membantu untuk mengangkat bukunya yang jatuh
bertebaran di lantai . Ia pun juga tak sempat meminta maaf kepadaku perihal peristiwa
tersebut. Ku segera bangkit dan langsung masuk kelas tanpa berpikir panjang.
Mata pelajaran pertama hari ini adalah sosiologi,” ini adalah
pelajaran favorit,”pikirku. Bu Tarmi adalah guru yang baik dan tidak sombong.
Dalam mengajar ia senantiasa memberikan motivasi kepada siswa-siswinya.
Khusunya kelas 12 IPS-2 yaitu kelasku. Saat ini diriku telah hampir
menyelesaikan masa studi pada jenjang
menengah. Aku ingin bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dengan
mengambil jurusan sosiologi. Tetapi, di sisi lain kedua orang tuaku tak sanggup membiayaiku. Aku adalah
anak pertama dari enam bersaudara. Lima adikku juga butuh pendidikan, ayahku
hanya seorang kuli bangunan sementara ibuku hanyalah seorang pedagang kue keliling.
Jam menunjukkan pukul satu siang. Saatnya aku pulang dari sekolah.
Ku ambil sepeda dan segera kuayuh melewati pematang sawah untuk menuju ke
rumah. Sesampai di rumah ku segera melepas pakaian kemudian mengambil air wudhu
untuk sembahyang. Ibuku biasanya telah menyiapkan makanan untukku. Kuputuskan
untuk makan dulu, sebelum pergi ke tempat kolam ikan air tawar milik Pak Arif
salah satu pengusaha di desaku. Desaku memang terkenal akan komoditas ikan air
tawarnya, seperti lele, mujair, nila,dsb. Biasanya aku membantu pak Arif
pemilik kolam untuk memberi makan ikan-ikannya setiap hari. Menjelang musim
panen biasanya aku disuruh membantu pula. Sesekali Pak Arif memberikan sejumlah
uang kepadaku sebagai upah selama merawat ikan dan membantunya dalam memanen
ikan.
Sedikit demi sedikit kukumpulkan uangku hasil dari membantu pak
Arif. Aku memang bercita-cita bisa mempunyai kolam sendiri dan menjadi seorang
pengusaha.
Matahari mulai condong ke barat menandakan berakhirnya jam kerjaku
di rumah Pak Arif. Aku langsung minta izin kepada beliau untuk pulang. Dalam
perjalanan kulihat lagi seorang gadis kerudung merah jambu yang tadi kulihat di
sekolah. Ia masuk ke rumah Pak Arif, hatiku semakin bertanya-tanya. Setahuku
Pak Arif tidak punya anak perempuan. Pak Arif hanya punya dua orang anak
laki-laki, yaitu Mas Abi dan Mas Nuril. “Siapakah dia sebenarnya, adakah
hubungan saudara dengan Pak Arif?” tanyaku. “Ah, masa bodoh, “ gumamku. aku
harus segera bergegas menuju ke rumah untuk segera bersiap-siap menjalankan
ibadah sholat maghrib.
Hari berganti hari tak terasa sebentar lagi aku akan menghadapi
ujian nasional penentu kelulusanku di sekolah ini. Sepanjang malam ku senantiasa
belajar, agar bisa lulus dengan hasil yang memuasakan. Tentunya ini akan
membanggakan kedua orang tuaku.
Sebulan kemudian setelah ujian berlangsung, pengumuman ditempelkan
di depan kelas. “Alhamdulillah, aku lulus,” teriakku. Teman-temanku juga tak kalah
gembiranya bersorak sorai merayakan kelulusan mereka masing-masing. Selepas
lulus aku mulai bingung apa yang harus kulakukan, haruskah aku kuliah atau aku
harus bekerja membantu kedua orang tuaku untuk membiayai adik-adikku. Pikiran
yang mulai mengalami dilematis tengah mengelayutiku dalam perjalanan pulang menuju
ke rumah.
Akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan pekerjaanku di kolam ikan Pak
Arif sebagai pekerja harian full time.
Setiap pagi ku berangkat menuju kolam dan pulang menjelang matahari
condong ke barat. Sudah setahun semenjak lulus ku bekerja di kolam Pak Arif.
Uang hasil keringatku telah terkumpul lumayan banyak. Aku mulai membangun kolam
ikan di samping rumahku dan telah ku tanam bibit ikan lele,nilai, mujair, dan
gurami. Berbeda dengan kolam Pak Arif yang hanya menampung ikan lele, nila, dan
mujair saja. Aku berpikir bahwa jika menaruh bibit ikan Gurami tentu akan
membawa keuntungan yang lebih besar karena harga jual gurami yang tinggi dan tingkat
konsumsi gurami yang banyak pula saat itu.
Waktu setahun telah melupakanku pada sesosok gadis berkerudung
merah jambu yang kulihat di sekolah dan
rumah Pak Arif. Hingga kini Aku tak mempunyai keberanian yang cukup untuk
bertanya pada Pak Arif mengenai gadis tersebut. Setahuku ia hanya berkunjung saja
di rumah Pak Arif kala itu. Karena sejak saat itu aku jarang sekali bertemu
dengannya lagi. Suatu ketika ku memberanikan diri bertanya kepada Pak Arif
tentang gadis yang kulihat itu. Pak Arif bercerita bahwa gadis itu bernama
Najwa. Ia adalah anak dari pemborong ikan-ikan Pak Arif yang tinggal di kota.
Saat itu waktu sore ia tengah membantu ibunya untuk melakukan transaksi
pembelian ikan.
Lantas “mengapa dia juga ada di sekolahku?” tanyaku pada Pak Arif.
Beliau menjawab,” Ia ke sekolahmu lantaran mau mengambil beberapa stok buku
tentang perikanan di perpustakaan.” Sejak SMA ia sangat menyenangi hal-hal yang
berbau tentang perikanan. Ia memang bukan murid dari sekolahmu dulu. Tetapi
kegemarannya dalam mengumpulkan buku dari beberapa sekolah di daerah ini
terbilang lumayan. Aku bertanya,”ada dimanakah sekarang dia?”. “ Ia tengah
menyelesaiakan studi jurusan perikanan di Bogor.”kata Pak Arif Ucapan Pak arif
barusan telah menenangkan pikiranku yang selama ini penuh dengan teka-teki
tanpa jawaban yang jelas.
Aku sadar bahwa pertemuan pagi itu di sekolah menjadi awal baru
bagi diriku. Diantara sekian gadis yang kulihat baru kali ini aku merasakan
jatuh hati pada pandangan pertama. Walaupun tak kenal siapa dia, dalam hati ada
rasa yang tak biasa. Inikah yang dinamakan cinta.
Semenjak mengetahui sispa gadis itu, aku coba untuk mencari
informasi tentang dimanakah ia bertemapt tinggal. Seringkali setelah bekerja
aku bertanya-tanya pada Pak Arif perihal gadis itu. Pak Arif sesekali tertawa
kecil menyaksikan tingkah laku pemuda yang tengah jatuh cinta.
Sudah lima tahun aku menggeluti bisnis perikanan. Saat ini bisnisku
telah menjadi besar dan melebihi usaha Pak Arif di bidang perikanan. Ketekunanku,
dorongan orang tua, ide-ide cemerlangku dan motivasi-motivasi yang telah
diberikan Pak Arif telah menjadikanku seperti sekarang ini. Kedua orang tuaku
turut bangga melihat anaknya sukses menjadi pebisnis. Adik-adikku juga telah
kubantu pendidikannya hingga jenjang yang lebih tinggi dari pendidikanku. Aku
hanyalah lulusan SMA yang mencoba peruntungan pada bisnis perikanan. Tetapi
Tuhan telah memberikan jalan kepada ku. Alhamdulillah segala puji bagimu Tuhan.
Usia yang semakin tua, memberikan kekhawatiran bagi kedua orang
tuaku. Mereka ingin diriku segera menikah. tetapi, tetap saja aku belum
memiliki pasangan yang pas sesuai dambaanku. Berkali-kali teman ayah menawarkan
anaknya agar bisa dinikahi olehku. Tetapi semua itu sia-sia saja, cintaku hanya
untuk Najwa seorang. Kesuksesan yang kuraih selama ini belum lengkap jika aku
tidak bisa menikahi gadis pujaanku.
Tuhan memang telah menakdirkanku hidup dengan Najwa. Suatu ketika
dalam kunjungan bisnis ke sebuah restoran. Aku bertemu dengan Najwa yang
kebetulan adalah seorang manajer dari restoran tersebut. Ia bercerita panjang
lebar perihal usaha yang ia rintis dari nol, semenjak bangkrutnya usaha mama
dan papanya. Ia harus hidup dan kuliah dengan biaya yang serba pas-pasan. Hingga pada akhirnya jiwa bisnis yang
diwariskan oleh ibunya telah menjadikan ia seperti sekarang ini.
Kebetulan restoran Najwa memiliki kerjasama bisnis dengan perusahaan
kolam ikanku. Sehingga setiap saat aku bertemu dengannya untuk melakukan
meeting bersama. Tanpa sadar cintaku semakin tumbuh subur kepadanya melihat
setiap kepribadian yang dimilikinya. Aku pun mulai tertarik untuk mendekatinya.
Sejak pertemuanku dengan Najwa beberapa tahun yang lalu ketika di
sekolah. Rupanya Najwa juga menyimpan rasa yang sama dengan perasaan cinta yang
kini bersemayam dalam diriku.
Najwa adalah sosok gadis yang muslimah dan baik hati. Ia tak pernah
sedikitpun berhubungan dengan seorang laki-laki apalagi sampai menjalin
hubungan berpacaran. Baginya berpacaran adalah hal yang dilarang dalam islam.
Akulah yang menjadi cinta pertamanya. Begitu pula aku menganggap bahwa Najwa
adalah cinta pertamaku.
Suatu hari kuputuskan untuk melamar Najwa di kediaman orang tuanya
yang tak jauh dari rumahku. Kedua orang tuaku sangat bahagia melihat anaknya
bisa segera naik ke pelaminan. Mengingat umurku yang semakin tua. Resepsi
sederhana digelar di masing-masing rumah kami. Begitulah akhirnya aku menikahi
Najwa seorang gadis yang sebelumnya tak pernah aku kenal. Hanya tatapan mata
pertama yang telah membawaku masuk ke dalam lubuk hatinya. Cinta yang takkan pernah
meninggalkan pasangan insan yang telah ditakdirkan berjodoh oleh Tuhannya.
*)Adeng Septi Irawan, Penulis
esai, opini, puisi, dan cerpen di Generasi
Pecinta Sastra (GATRA) UIN Sunan Ampel Surabaya Aktif di Unit Kegiatan
Pengembangan Intelektual UINSA,Selain itu juga pernah menjadi kontributor puisi
pada buku lukisan diatas hamparan air penerbit rasibook, buku gravitasi
penerbit dasta media,dll. alamat
domisisli di Dinoyo Alun-alun IV/10 Keputran Surabaya bisa dihubungi pada
HP.085724663650 email irawan_34@yahoo.com atau FB Adeng Septi Irawan. Kumpulan sastra karyaku bisa dilihat
di Blog pribadi update: http://irhana-sastra.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar