Jumat, 29 Januari 2016

CERPEN: KERUDUNG MERAH JAMBU




Oleh Adeng Septi Irawan*)

Pagi hari yang cerah, mentari yang bersinar terang menerpa embun pagi yang tengah menyelimuti desa. Suasana sejuk dan hangat menyelimuti tubuh mungil ini. Seperti biasa ku mengayuh sepeda tua menuju sekolah yang berjarak lumayan jauh dari rumah. Sejak kecil diriku memang telah terbiasa bangun sebelum subuh. Sembahyang subuh biasa kulakukan dengan berjamaah di surau terdekat samping rumah. Barulah setelah selesai ku membantu Ibu membawakan dagangan dari pasar untuk digunakan berjualan.
Tepat pukul tujuh kurang seperempat aku telah tiba di Sekolah. Aku memang orang yang disiplin waktu dan tidak suka membiasakan diri terlambat. Ku Parkir sepeda di samping kelas dan bergegas menuju kelas. Mata memandang dari kejauhan ku melihat seorang gadis dengan kerudung merah jambu berjalan cepat sambil membawa beberapa buku entah darimana ia dapatkan. Kelihatannya ia bukan murid sekolah ini, lantas apa yang dilakukan disini. Tiba-tiba terdengar suara brruuuukkk,,,,.. ia menabrakku, buku berceceran di depan kelas. Diriku hanya terdiam tanpa kata dan hanya menyaksikan begitu saja. Seolah-opah kejadian begitu cepat. Tanpa sadar gadis tersebut langsung mengemasi buku dan beranjak pergi dari hadapanku.
Ku tak sanggup membantu untuk mengangkat bukunya yang jatuh bertebaran di lantai . Ia pun juga tak sempat meminta maaf kepadaku perihal peristiwa tersebut. Ku segera bangkit dan langsung masuk kelas tanpa berpikir panjang.
Mata pelajaran pertama hari ini adalah sosiologi,” ini adalah pelajaran favorit,”pikirku. Bu Tarmi adalah guru yang baik dan tidak sombong. Dalam mengajar ia senantiasa memberikan motivasi kepada siswa-siswinya. Khusunya kelas 12 IPS-2 yaitu kelasku. Saat ini diriku telah hampir menyelesaikan masa studi  pada jenjang menengah. Aku ingin bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi dengan mengambil jurusan sosiologi. Tetapi, di sisi lain kedua orang  tuaku tak sanggup membiayaiku. Aku adalah anak pertama dari enam bersaudara. Lima adikku juga butuh pendidikan, ayahku hanya seorang kuli bangunan sementara ibuku hanyalah seorang pedagang kue keliling.
Jam menunjukkan pukul satu siang. Saatnya aku pulang dari sekolah. Ku ambil sepeda dan segera kuayuh melewati pematang sawah untuk menuju ke rumah. Sesampai di rumah ku segera melepas pakaian kemudian mengambil air wudhu untuk sembahyang. Ibuku biasanya telah menyiapkan makanan untukku. Kuputuskan untuk makan dulu, sebelum pergi ke tempat kolam ikan air tawar milik Pak Arif salah satu pengusaha di desaku. Desaku memang terkenal akan komoditas ikan air tawarnya, seperti lele, mujair, nila,dsb. Biasanya aku membantu pak Arif pemilik kolam untuk memberi makan ikan-ikannya setiap hari. Menjelang musim panen biasanya aku disuruh membantu pula. Sesekali Pak Arif memberikan sejumlah uang kepadaku sebagai upah selama merawat ikan dan membantunya dalam memanen ikan.
Sedikit demi sedikit kukumpulkan uangku hasil dari membantu pak Arif. Aku memang bercita-cita bisa mempunyai kolam sendiri dan menjadi seorang pengusaha.
Matahari mulai condong ke barat menandakan berakhirnya jam kerjaku di rumah Pak Arif. Aku langsung minta izin kepada beliau untuk pulang. Dalam perjalanan kulihat lagi seorang gadis kerudung merah jambu yang tadi kulihat di sekolah. Ia masuk ke rumah Pak Arif, hatiku semakin bertanya-tanya. Setahuku Pak Arif tidak punya anak perempuan. Pak Arif hanya punya dua orang anak laki-laki, yaitu Mas Abi dan Mas Nuril. “Siapakah dia sebenarnya, adakah hubungan saudara dengan Pak Arif?” tanyaku. “Ah, masa bodoh, “ gumamku. aku harus segera bergegas menuju ke rumah untuk segera bersiap-siap menjalankan ibadah sholat maghrib.
Hari berganti hari tak terasa sebentar lagi aku akan menghadapi ujian nasional penentu kelulusanku di sekolah ini. Sepanjang malam ku senantiasa belajar, agar bisa lulus dengan hasil yang memuasakan. Tentunya ini akan membanggakan kedua orang tuaku.
Sebulan kemudian setelah ujian berlangsung, pengumuman ditempelkan di depan kelas. “Alhamdulillah, aku lulus,” teriakku. Teman-temanku juga tak kalah gembiranya bersorak sorai merayakan kelulusan mereka masing-masing. Selepas lulus aku mulai bingung apa yang harus kulakukan, haruskah aku kuliah atau aku harus bekerja membantu kedua orang tuaku untuk membiayai adik-adikku. Pikiran yang mulai mengalami dilematis tengah mengelayutiku dalam perjalanan pulang menuju ke rumah.
Akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan pekerjaanku di kolam ikan Pak Arif sebagai pekerja harian full time.
Setiap pagi ku berangkat menuju kolam dan pulang menjelang matahari condong ke barat. Sudah setahun semenjak lulus ku bekerja di kolam Pak Arif. Uang hasil keringatku telah terkumpul lumayan banyak. Aku mulai membangun kolam ikan di samping rumahku dan telah ku tanam bibit ikan lele,nilai, mujair, dan gurami. Berbeda dengan kolam Pak Arif yang hanya menampung ikan lele, nila, dan mujair saja. Aku berpikir bahwa jika menaruh bibit ikan Gurami tentu akan membawa keuntungan yang lebih besar karena harga jual gurami yang tinggi dan tingkat konsumsi gurami yang banyak pula saat itu.
Waktu setahun telah melupakanku pada sesosok gadis berkerudung merah jambu yang  kulihat di sekolah dan rumah Pak Arif. Hingga kini Aku tak mempunyai keberanian yang cukup untuk bertanya pada Pak Arif mengenai gadis tersebut. Setahuku ia hanya berkunjung saja di rumah Pak Arif kala itu. Karena sejak saat itu aku jarang sekali bertemu dengannya lagi. Suatu ketika ku memberanikan diri bertanya kepada Pak Arif tentang gadis yang kulihat itu. Pak Arif bercerita bahwa gadis itu bernama Najwa. Ia adalah anak dari pemborong ikan-ikan Pak Arif yang tinggal di kota. Saat itu waktu sore ia tengah membantu ibunya untuk melakukan transaksi pembelian ikan.
Lantas “mengapa dia juga ada di sekolahku?” tanyaku pada Pak Arif. Beliau menjawab,” Ia ke sekolahmu lantaran mau mengambil beberapa stok buku tentang perikanan di perpustakaan.” Sejak SMA ia sangat menyenangi hal-hal yang berbau tentang perikanan. Ia memang bukan murid dari sekolahmu dulu. Tetapi kegemarannya dalam mengumpulkan buku dari beberapa sekolah di daerah ini terbilang lumayan. Aku bertanya,”ada dimanakah sekarang dia?”. “ Ia tengah menyelesaiakan studi jurusan perikanan di Bogor.”kata Pak Arif Ucapan Pak arif barusan telah menenangkan pikiranku yang selama ini penuh dengan teka-teki tanpa jawaban yang jelas.
Aku sadar bahwa pertemuan pagi itu di sekolah menjadi awal baru bagi diriku. Diantara sekian gadis yang kulihat baru kali ini aku merasakan jatuh hati pada pandangan pertama. Walaupun tak kenal siapa dia, dalam hati ada rasa yang tak biasa. Inikah yang dinamakan cinta.
Semenjak mengetahui sispa gadis itu, aku coba untuk mencari informasi tentang dimanakah ia bertemapt tinggal. Seringkali setelah bekerja aku bertanya-tanya pada Pak Arif perihal gadis itu. Pak Arif sesekali tertawa kecil menyaksikan tingkah laku pemuda yang tengah jatuh cinta.
Sudah lima tahun aku menggeluti bisnis perikanan. Saat ini bisnisku telah menjadi besar dan melebihi usaha Pak Arif di bidang perikanan. Ketekunanku, dorongan orang tua, ide-ide cemerlangku dan motivasi-motivasi yang telah diberikan Pak Arif telah menjadikanku seperti sekarang ini. Kedua orang tuaku turut bangga melihat anaknya sukses menjadi pebisnis. Adik-adikku juga telah kubantu pendidikannya hingga jenjang yang lebih tinggi dari pendidikanku. Aku hanyalah lulusan SMA yang mencoba peruntungan pada bisnis perikanan. Tetapi Tuhan telah memberikan jalan kepada ku. Alhamdulillah segala puji bagimu Tuhan.
Usia yang semakin tua, memberikan kekhawatiran bagi kedua orang tuaku. Mereka ingin diriku segera menikah. tetapi, tetap saja aku belum memiliki pasangan yang pas sesuai dambaanku. Berkali-kali teman ayah menawarkan anaknya agar bisa dinikahi olehku. Tetapi semua itu sia-sia saja, cintaku hanya untuk Najwa seorang. Kesuksesan yang kuraih selama ini belum lengkap jika aku tidak bisa menikahi gadis pujaanku.
Tuhan memang telah menakdirkanku hidup dengan Najwa. Suatu ketika dalam kunjungan bisnis ke sebuah restoran. Aku bertemu dengan Najwa yang kebetulan adalah seorang manajer dari restoran tersebut. Ia bercerita panjang lebar perihal usaha yang ia rintis dari nol, semenjak bangkrutnya usaha mama dan papanya. Ia harus hidup dan kuliah dengan biaya yang serba pas-pasan.  Hingga pada akhirnya jiwa bisnis yang diwariskan oleh ibunya telah menjadikan ia seperti sekarang ini.
Kebetulan restoran Najwa memiliki kerjasama bisnis dengan perusahaan kolam ikanku. Sehingga setiap saat aku bertemu dengannya untuk melakukan meeting bersama. Tanpa sadar cintaku semakin tumbuh subur kepadanya melihat setiap kepribadian yang dimilikinya. Aku pun mulai tertarik untuk mendekatinya.
Sejak pertemuanku dengan Najwa beberapa tahun yang lalu ketika di sekolah. Rupanya Najwa juga menyimpan rasa yang sama dengan perasaan cinta yang kini bersemayam dalam diriku.
Najwa adalah sosok gadis yang muslimah dan baik hati. Ia tak pernah sedikitpun berhubungan dengan seorang laki-laki apalagi sampai menjalin hubungan berpacaran. Baginya berpacaran adalah hal yang dilarang dalam islam. Akulah yang menjadi cinta pertamanya. Begitu pula aku menganggap bahwa Najwa adalah cinta pertamaku.
Suatu hari kuputuskan untuk melamar Najwa di kediaman orang tuanya yang tak jauh dari rumahku. Kedua orang tuaku sangat bahagia melihat anaknya bisa segera naik ke pelaminan. Mengingat umurku yang semakin tua. Resepsi sederhana digelar di masing-masing rumah kami. Begitulah akhirnya aku menikahi Najwa seorang gadis yang sebelumnya tak pernah aku kenal. Hanya tatapan mata pertama yang telah membawaku masuk ke dalam lubuk hatinya. Cinta yang takkan pernah meninggalkan pasangan insan yang telah ditakdirkan berjodoh oleh Tuhannya.

*)Adeng Septi Irawan, Penulis esai, opini, puisi, dan cerpen di Generasi Pecinta Sastra (GATRA) UIN Sunan Ampel Surabaya Aktif di Unit Kegiatan Pengembangan Intelektual UINSA,Selain itu juga pernah menjadi kontributor puisi pada buku lukisan diatas hamparan air penerbit rasibook, buku gravitasi penerbit dasta media,dll.  alamat domisisli di Dinoyo Alun-alun IV/10 Keputran Surabaya bisa dihubungi pada HP.085724663650 email irawan_34@yahoo.com atau FB Adeng Septi Irawan. Kumpulan sastra karyaku bisa dilihat di Blog pribadi update: http://irhana-sastra.blogspot.co.id/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar