Tirta nan luas, dilingkari tonggak-tonggak
tinggi
Menyatu, terikat kuat oleh bumi bak rantai
penyambung baja
Kembang kenanga, kembang melati mekar
Tampak oleh kedua pelupuk mata nan bundar
Harum aroma embun di senja hari
Menusuk kedua lubang indra
Sejuk rasanya di dalam tubuh mungil ini
Mentari mulai redup, ditelan kegelapan
Siang telah berganti malam, saat terang
telah menjadi gelap
Angin membelah danau bak pisau belah daun
Lurus tanpa goresan sedikitpun
Gelombang tirta berlabuh menuju daratan
Bertolak dari pelabuhan, kembali ke tengah
lautan
Ketenangan hati cermin keikhlasan diri
simbol keindahan
Sungguh hebat pena Tuhan sang pelukis
keindahan
Bedugul itulah namanya, danau di pulau
Dewata
Dunia terasa berputar bak roda, semua tak
ada yang kekal
Segores pena tuhan bisa menjadi suatu petaka bagi insan
Luapan tirta nan dahsyat menyapu seisi
daratan
Bak banjir bandang menghabisi ribuan nyawa
Syukur sebagai simbol keindahan antara
insan dan tuhan
Penolak segala marabahaya, murka Sang
pelukis keindahan
Adeng
Septi Irawan, Penggiat sastra puisi di komunitas GISAM (Gerakan UIN
Sunan Ampel Menulis)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar